iran menlu javad zarifAljir, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Mohammad Javad Zarif menyerukan kepada negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok (GNB) supaya mewaspadai sektarianisme dan berjuang melawan radikalisme.

Dalam pidato pada konferensi tingkat menteri ke-17 Gerakan Non-Blok (GNB) di Aljir, ibu kota Aljazair, Kamis (29/5) dia juga mengingatkan bahwa Baitul Maqdis (Jerussalem) harus menjadi ibu kota negara merdeka Palestina, serta menegaskan kembali kepantangan bangsa Iran tunduk pada intimidasi dan sanksi Barat terkait program nuklir Iran dan prestasi negara ini di bidang sains.

Mohammad Jazad Zarif menilai ekstrimisme, kekerasan dan sektarianisme sebagai bagian dari problema besar dan tantangan terkini yang secara naif telah menyuburkan aksi teror di muka bumi.

“Semua tantangan besar ini,” ujar Zarif, “telah membuat resolusi gagasan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani tentang dunia tanpa kekerasan dan radikalisme diterima dengan suara bulat di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).”

Dia menambahkan, “Seiring dengan upaya kolektif antarnegara untuk mengendalikan orang-orang dan kelompok-kelompok ekstrimis, beberapa tindakan juga harus ditempuh untuk mengurangi faktor-faktor penyebab ketegangan.”

Menyinggung ketertindasan rakyat Palestina oleh Rezim Zionis, Menlu Iran menilai kontinyuitas serangan Israel terhadap bangsa Palestina selama tujuh dekade dan upaya mereka untuk menistakan hak bangsa Palestina sebagai fakta yang tak dapat diingkari ataupun disepelekan.

“Kita harus fokus pada realitas ini agar kita mengetahui adanya banyak kamuflase yang dilakukan dengan tujuan menistakan hak asasi rakyat Palestina serta perampasan tanah dan sumber daya mereka,” ungkap Zarif.

“Negara-negara anggota GNB,” lanjut dia,”harus menegaskan sikap bersama, dan tak syak lagi bahwa stabilitas dan ketentraman tidak akan pernah tercapai tanpa pengembalian hak ini dan tanpa pembentukan negara merdeka Palestina dengan ibu kota Baitul Maqdis.”

Mengenai program nuklir Iran, Zarif menyangsikan sikap Israel. “Menurut Anda,” ujar dia kepada para peserta konferensi GNB, “apakah tidak bermakna apa-apa ketika sebuah negara non anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan negara pemilik arsenal nuklir yang menjadi ancaman terbesar bagi seluruh kawasan Timur Tengah membuat garis merah untuk NPT dan hukum internasional mengenai program nuklir damai Iran? Bukankah ini adalah modus untuk menyesatkan opini publik?”

Menlu Iran menilai modus itulah yang membuat program nuklir Iran selama beberapa dekade ini selalu digembar-gemborkan Barat.

“Mereka selalu berusaha mencitrakan Iran sebagai ancaman regional dan global, klaim yang sepenuhnya dibuat berdasar kebohongan..Iran adalah negara anggota NPT, dan kami meyakini bahwa senjata nuklir justru melemahkan keamanan nasional,” ungkapnya.

Dia menambahkan, “Penyelesaian masalah nuklir Iran telah menjelma sebagai mimpi buruk bagi para penggila perang yang kepentingannya memang bergantung pada penciptaan ketegangan, konflik, dan ketakutan.”

Menlu Iran lantas menegaskan bahwa raihan besar Iran di bidang sains dan riset adalah harga mati dan tidak mungkin dapat dirundingkan.

“Bangsa Iran sudah membuktikan tidak pernah tunduk pada sanksi dan ancaman. Tidak ada sesuatu yang kami sembunyikan, dan dalam suasana saling hormat dan kesetaraan bangsa Iran juga telah menunjukkan bahwa program nuklir kami akan selalu bertujuan damai,” ungkap Zarif.

Mohammad Javad Zarif mengapresiasi dukungan negara-negara anggota GNB kepada aktivitas nuklir Iran. (mm/fna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL