Assad- SanaDamaskus, LiputanIslam.com – Presiden Suriah Bashar al-Assad mengaku bahwa bagi dirinya yang penting adalah suara rakyat, sedangkan suara-suara yang berkoar di luar negeri hanyalah “gelembung air”.

“Pembicaraan mengenai pemimpin Suriah adalah hak rakyat Suriah sendiri, sedangkan semua statemen yang berasal dari luar negeri tidaklah penting bagi kami,” ujarnya saat menerima kunjungan Menteri Perekonomian Iran Ali Taeb Niya di Damaskus, ibu kota Suriah, Senin (16/3/2015), sebagaimana dilansir Alalam.

“Segala sesuatu yang dikata orang tentang ini, persisnya sejak hari pertama krisis sampai sekarang yang sudah empat tahun berlalu tidaklah mengundang kepedulian kami, baik dari jauh maupun dari dekat. Kami hanya mendengar suara rakyat Suriah dan memantau reaksi, perhatian dan aspirasi mereka serta segala sesuatu yang ada kaitannya dengan rakyat. Adapun apa yang datang dari luar perbatasan semua itu tidak lebih dari suara gelembung air,” imbuhnya.

Menanggapi statemen Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Joh Kerry belum lama ini bahwa Gedung Putih pada akhirnya harus berbicara dengan Assad untuk mengatasi konflik Suriah, dia mengatakan, “Kami masih sebatas mendengar pernyataan. Kami harus menunggu tindakan, dan setelah itu baru kami akan mengambil keputusan.”

Mengenai perkembangan situasi konflik Suriah sendiri dia menegaskan bahwa pertahanan negara adalah satu-satunya opsi yang tersedia bagi pemerintah Damaskus.

“Kami tidak memiliki opsi apapun selain membela tanah air. Kami tidak memiliki opsi lain sejak hari pertama,” tuturnya.
Dia melanjutkan bahwa transformasi internasional dalam konteks ini merupakan perkembangan yang positif apabila disertai kejujuran dan efek langsung di lapangan.

“Jika dukungan politik dan dana serta pengiriman senjata kepada para teroris sudah berhenti, maka tampaknya saat itulah kami dapat mengatakan bahwa perubahan ini telah menjadi perubahan yang hakiki,” pungkasnya.

Reuters saat memberitakan tanggapan Assad itu menyebutkan bahwa yang dinanti Assad bukan pernyataan dari Kerry, melainkan tindakan.

Kantor berita yang bermarkas di London, Inggris, ini juga menyebutkan bahwa dalam wawancara dengan CBS Minggu (15/3/2015), Kerry tidak lagi menyinggung standar selama ini digembar-gemborkan Washington bahwa Assad telah kehilangan semua legitimasinya menyusul perang saudara di Suriah, dan karena itu Assad harus mundur.

Sebagai pernah diberitakan LI sebelumnya, Kerry mengakui bahwa pada akhirnya pemerintah Washington mau tidak mau harus berunding dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad mengenai krisis Suriah. (Baca: Kerry Akui AS Pada Akhirnya Harus Berunding Dengan Presiden Suriah)

(mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*