Mahmoud-Abbas_45Ramallah, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), John Kerry, mendadak membatalkan pertemuan dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang telah dijadwalkan di Ramallah, Tepi Barat, Senin sore waktu setempat (31/03). Otoritas Palestina sudah terlanjur mengundang banyak wartawan supaya meliput kedatangan Kerry ke Ramallah, namun setelah dinanti dua jam ternyata yang datang justru kabar pembatalan pertemuan oleh Kerry sehingga para wartawanpun lantas diminta meninggalkan kantor kepresidenan Palestina.

Tidak diketahui sebab mengapa pertemuan itu dibatalkan, sebagaimana pula tidak ada keterangan apakah pertemuan masih akan dilakukan di lain waktu atau tidak. Namun demikian, beberapa media Israel menyebutkan pertemuan itu batal akibat molornya pertemuan Kerry dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu di Baitul Maqdis (Jerussalem) bagian barat. Menurut media Israel, pertemuan Kerry dengan Netanyahu itu berlangsung sampai empat jam.

John Kerry tiba di Israel Senin (31/03) dalam rangka kunjungan kenegaraan yang disebut media Israel membawa misi penyelematan perundingan Palestina-Israel.

Di hari yang sama, dua dewan eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan gerakan Fatah menggelar rapat dibawah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas membahas perkembangan perundingan Palestina-Israel, terutama menyangkut keengganan Israel membebaskan tawanan Palestina untuk tahap keempat.

Rezim Zionis Israel sebelumnya sepakat untuk membebaskan 104 aktivis Palestina yang ditawan Israel sejak sebelum perjanjian Oslo antara Tel Aviv dan PLO. Pembebasan rencananya akan dilakukan dalam empat tahap sebagai kompensasi atas kesediaan pihak Palestina mengurungkan keinginannya untuk menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan terlebih lagi menjadi anggota Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Denhaag.

Sejauh ini Israel sudah merealisasikan pembebasan tiga tahap. Untuk tahap keempat, Israel dijadwalkan membebaskan 30 tawanan pada Sabtu sore pekan lalu, tapi sampai sekarang  jadwal itu masih molor.

Kedua pihak telah memulai negosiasi damai Juli tahun lalu di bawah pengawasan AS dengan harapan akan dicapai kesepakatan damai paling lambat 29 April 2014, yakni dalam kurun waktu sembilan bulan. Namun, Israel dan AS ternyata memperpanjang waktu hingga satu tahun. Penangguhan ini kemudian direaksi oleh Otoritas Palestina dengan tuntutan supaya Israel menghentikan pemukiman warga Zionis di berbagai wilayah Palestina pendudukan, namun tuntutan ini ditolak oleh Netanyahu. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL