Moskow, LiputanIslam.com –  Rusia memperkuat eksistensi militernya di Suriah setelah mensinyalir adanya rencana Barat untuk segera menyerang Pasukan Arab Suriah (SAA) dengan dalih terjadi serangan bom kimia yang juga sudah direncanakan Barat untuk menyalahkan SAA.

Surat kabar Kommersant, Selasa (28/8/2018), mengutip keterangan sumber staf angkatan bersenjata Rusia bahwa dua kapal fregat yang dilengkapi rudal jelajah jenis Kalibr yang sanggup menghantam sasaran di darat ataupun laut telah dilayarkan ke Laut Mediteranian pada Sabtu lalu.

Dengan demikian, seperti disebutkan oleh surat kabar Izvestia, armada Rusia kini terdiri atas 10 kapal dan 2 kapal selam di dekat Suriah sehingga tercatat sebagai eksistensi militer Rusia yang terbesar di Suriah sejak negara ini dilanda krisis pada tahun 2011.

Menurut Izvestia, armada Rusia juga mencakup tiga kapal patroli serta kapal perusak dan peluncur rudal yang bertujuan mencegat kapal selam.

Sabtu lalu militer Rusia menuding kelompok-kelompok pemberontak Suriah sedang menyiapkan “provokasi” berupa serangan bom kimia di provinsi Idlib agar pemerintah Suriah dituduh bertanggungjawab dan lalu menjadi dalih bagi Barat untuk menyerang sasaran-sasaran pemerintah di Suriah.

Pada April lalu Amerika Serikat (AS), Perancis, dan Inggris melancarkan serangan ke posisi-posisi pemerintah Suriah dengan dalih adanya serangan kimia di kota Douma. Rusia mengecam serangan Barat tersebut dan menyebutnya didasari alasan hoax.

Selasa kemarin Wakil Menlu Rusia Sergei Ryabkov kembali menuduh kelompok teroris Hayat Tahrir Sham alias Jabhat al-Nusra yang menguasai 60% wilayah provinsi Idlib “akan segera melakukan provokasi yang sangat berbahaya dengan menggunakan bahan kimia yang mengandung klorin.”

Rusia campur tangan di Suriah sejak September 2015 untuk bersama Iran dan Hizbullah menyokong SAA dalam perang melawan kawanan pemberontak dan teroris yang didukung oleh Barat dan sejumlah negara Arab sekutunya. Dukungan Rusia dan Iran ini mengandaskan skenario Barat untuk menguasai Suriah yang notabene satu-satunya negara Arab yang pantang berkompromi dengan Rezim Zionis Israel. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*