media arabLondon, LiputanIslam.com –  Gempita perjuangan, kebangkitan, dan intifada bangsa Muslim dan Arab Palestina melawan Rezim Zionis Israel, demikian pula gemuruh perang di Yaman yang menjatuhkan banyak korban sipil dan papa ternyata belakangan ini dipandang dengan sebelah mata oleh media massa dunia Arab sendiri.  Demikian menurut pantauan media Arab online Rai al-Youm (RY) yang berbasis di London, Inggris, Senin (15/2).

“Media massa dunia Arab kini mengarahkan semua perhatiannya kepada Suriah dan tak menggubris intifada yang berkobar di wilayah pendudukan Palestina serta aksi-aksi Rezim Zionis terhadap para pemuda Palestina,” tulis RY.

Menurut RY,  perang Yamanpun yang kini segera memasuki tahun kedua juga relatif jarang mendapat perhatian dari media Arab, padahal perkembangan situasi di sana berlangsung cepat. Namun demikian, dalam dua hari terakhir, ada tiga peristiwa terbaru yang menjadi sorotan utama media Arab terkait dengan Perang Yaman, yaitu;

Pertama, pernyataan komandan umum angkatan bersenjata Uni Emirat Arab (UEA) mengenai satu korban tewas dan satu korban luka tentara negara ini dalam operasi militer di Yaman sehingga total jumlah tentara UEA yang tewas mencapai lebih dari 70 orang.

Kedua, serangan udara pasukan koalisi pimpinan Saudi terhadap pabrik tekstil yang mengakibatkan dua pekerja tewas dan 15 lainnya luka-luka, dan terbakarnya semua bangunan pabrik.

Ketiga, pengerahan rudal Patriot buatan Amerika Serikat oleh Saudi untuk menangkis rudal-rudal Scud pasukan Yaman ke arah kota Khamis Mushait, Saudi.

RY menyoal mengapa terkait peristiwa pertama sampai sekarang tak ada data mengenai jumlah korban dari pihak tentara Sudan, Qatar, Kuwait, Bahrain serta pasukan bayaran asal Kolumbia dan negara-negara asing lain di Yaman? Jawabannya tidak lepas dari dua kemungkinan;Pertama, pasukan negara-negara itu memang terlibat perang sehingga jatuh korban tewas maupun luka, tapi sengaja dirahasiakan. Kedua, pasukan itu memang ada di Yaman, tapi tidak ikut berperang, melainkan sebatas hadir secara simbolik.

Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan tersebut karena ada sensor berita ekstra ketat. Karena itu, sangat mungkin sensor berita juga terjadi pada peristiwa kedua dan ketiga, apalagi pasukan koalisi pimpinan Saudi bahkan juga sengaja menekan dan menyerang para pekerja lembaga-lembaga dunia semisal Komite Internasional Palang Merah agar angkat kaki dari Yaman.

Di bagian akhir RY menegaskan bahwa perang di Yaman sangat merusak sehingga tidak seharusnya dipandang dengan sebelah mata karena sebagian besar korbannya adalah kalangan rakyat jelata yang miskin dan kelaparan. Mereka tetap berhak untuk hidup secara terhormat dan terbebas dari kezaliman dan penindasan. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL