presiden-turki-erdoganAnkara, LiputanIslam.com –   Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tampak semakin tak tahan menyaksikan Amerika Serikat (AS) bermitra dengan kelompok-kelompok Kurdi yang paling dimusuhi Turki di Suriah.

Tak kurang, Erdogan melontarkan tuduhan mengejutkan terhadap pasukan koalisi internasional anti ISIS dengan blak-blakan menyebut koalisi pimpinan AS ini justru menyokong kelompok-kelompok teroris, tak terkecuali ISIS sendiri.

“Pasukan koalisi internasional anti ISIS semula mengaku akan memerangi dan membasmi habis kelompok teroris ISIS, tapi sekarang justru menyokong kelompok-kelompok teroris, termasuk DAESH (ISIS), YPG (Unit Perlindungan Rakyat Kurdi) dan PYD (Partai Uni Demokratik Kurdi),” kecamnya dalam konferensi pers bersama Presiden Republik Guinea, Alpha Conde, di Ankara, ibu kota Turki, Selasa (27/12/2016), seperti dilansir Reuters.

“Ini sangat jelas, kami memiliki bukti yang terkonfirmasi, dengan gambar, foto, dan video,” lanjutnya.

Erdogan juga meluapkan kekesalannya terhadap AS dan Eropa yang kerap menggempur Turki dengan tuduhan pelanggaran HAM dan demokrasi pasca kudeta militer gagal di Istanbul beberapa waktu lalu.

“Orang-orang yang 50-60 tahun silam tak segan-segan menumpahkan darah rakyat Afrika demi berlian, emas, dan minyak sekarang mencoba mengajarkan kemanusiaan kepada kita tanpa melihat sejarah masa lalunya yang berlumur darah dan memalukan, mereka mencoba mengritik negara kita dari segi HAM dan demokrasi,” tegasnya.

Erdogan juga menyinggung prakarsa Rusia untuk penyelesaian krisis Suriah, dan mengajak Saudi dan Qatar  agar bergabung dengan segi tiga Rusia, Iran dan Turki dalam pembicaraan mengenai perdamaian di Suriah.

“Menyusul kandasnya perundingan Jenewa, Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan kepada kami penyelenggaraan perundingan di Astana, ibu kota Kazakhstan, dan kamipun menyetujuinya. Atas dasar ini kami menyambut baik keterlibatan negara-negara jiran Suriah, namun menolak diundangnya perwakilan kelompok-kelompok teroris, termasuk PYD/YPG,” tuturnya.

Bersamaan dengan ini, Rusia juga menuding AS mensponsori terorisme di Suriah, mengacu pada Rancangan Undang-Undang (RUU) Otorisasi Pertahanan Nasional AS terbaru yang ditandatangani Presiden Barack Obama sebagai Undang-Undang.

Jubir Kemlu Rusia Maria Zakharova mengatakan, “RUU baru secara terbuka menyatakan kemungkinan untuk menyediakan senjata yang lebih untuk (kelompok pemberontak maupun individu) di Suriah.”

“Senjata mereka akan segera menemukan jalan menuju jihadis,” imbuhnya.

Perundingan segi tiga Rusia, Iran dan Turki Selasa pekan lalu telah menghasilkan penarikan militan dan evakuasi warga sipil dari Aleppo, kota di Suriah utara yang akhirnya direbut kembali oleh pasukan pemerintah Suriah. Ketiganya juga sepakat untuk mengadakan pembicaraan lagi mengenai perdamaian Suriah di Kazakhstan bulan depan.  (mm/reuters/ap/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL