Washington, LiputanIslam.com –  Mantan petinggi dinas rahasia Amerika Serikat (AS), CIA, bidang kontra-terorisme dan intelijen militer, Philip Giraldi, dalam sebuah catatannya, Selasa (10/7/2018), menyebut Iran sebagai negara yang berlatar belakang sejarah sedemikian besar sehingga resisten di depan tekanan kekuatan asing.

Sebagaimana dikutip Fars News, Giraldi memastikan bahwa Presiden AS Donald Trump berambisi menekan rakyat Iran agar bangkit melawan pemerintahan Islam Iran, sebagaimana terlihat dalam pernyataan Rudy Giuliani, pengacara pribadi Trump, dalam pertemuan dengan kelompok pemberontak Iran Organisasi Mujahidin Khalq (MKO) di Gedung Putih pekan lalu. Tapi Giraldi kemudian menilai ambisi itu sebagai ilusi belaka.

“Peralihan pemerintahan (Iran) secepatnya adalah ilusi yang sangat digandrungi di forum-forum neo-konservatif dan pro-Israel di Washington, termasuk  Giuliani,” tulisnya.

Dia menilai kebijakan Trump dan para penasehatnya terhadap Iran sebagai “taktik keliru” karena justru akan memperkuat posisi pemerintah Iran.

“Aneh, Gedung Putih tampaknya tidak menyadari realitas bahwa Iran bukan Irak dan bukan pula Libya. Negara ini menyandang sebuah identitas nasional yang kuat dan latar belakang historis yang membuatnya resisten di depan tekanan kekuatan-kekuatan asing, termasuk pemimpin dunia bebas,”,tulisnya.

Dia menambahkan, “Kelompok neo-konservatid dan pendukung Israel yang secara blak-blakan mengendalikan Trump benar-benar telah menekan tombol-tombol yang salah. Mereka ingin menggunakan berbagai sanksi untuk meruntuhkan ekonomi Iran dan menciptakan perpecahan di negara ini agar rakyat turun ke jalanan.” (mm/farsnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*