israel Ehud-BarakAstana, LiputanIslam.com – Pengakuan mengenai kepemilikan bom nuklir Israel meluncur dari mulut salah satu sosok ternama di negara Zionis ilegal tersebut, yaitu mantan menteri pertahanan (menhan) Israel Ehud Barak.

Dalam sidang Forum Media Eurasia ke-12 yang berlangsung di Astana, ibu kota Kazakhstan, 24-25 April 2014, saat berbicara mengenai proyek nuklir Israel Barak mengatakan, “Hulu ledak nuklir kami tidak untuk mengancam siapapun.”

Menurut laporan situs berita Bawabat al-Ahram (Gate Ahram), pada kesempatan itu Barak sempat dicecar pertanyaan oleh pakar strategi keamanan asal Mesir, Mayjen Purnuwirawan Sameh Seif al-Yazal, namun dia enggan menjawab pertanyataan itu. Dia ditanya mengapa Israel enggan menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menolak instalasi nuklirnya diperiksa oleh Badan Energi Nuklir Internasional (IAEA).

Keberadaan puluhan hulu ledak nuklir Israel sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, namun Tel Aviv sengaja tutup mulut dan tidak pernah memberi kesempatan bagi upaya pemeriksaan.

Ehud Barak juga menyinggung proyek nuklir dan kembali melontarkan klaim bahwa upaya Iran meraih senjata nuklir sebagai bencana. Menurut dia, Iran sedang memburu bom nuklir dan mengikuti jejak Pakistan dan Korea Utara.

Barak yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri Israel lantas menyinggung kesepakatan antara Fatah dan HAMAS untuk mendirikan pemerintahan persatuan nasional Palestina. Dia mengaku terkejut atas kesepakatan ini dan menuduh HAMAS sedang memerangi upaya perdamaian.

Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh usai pertemuan HAMAS-Fatah Rabu lalu mengumumkan berakhirnya perselisihan antarfaksi Palestina yang sudah berlangsung tujuh tahun. Dia juga mengabarkan adanya kesepakatan kedua pihak untuk mendirikan pemerintahan persatuan nasional Palestina serta penyelenggaraan pemilu presiden dan parlemen dalam kurun waktu enam bulan mendatang.

Mengenai Mesir, Barak berpendapat bahwa jika mantan menteri pertahanan Mesir Abdul Fatah al-Sisi terpilih sebagai presiden maka HAMAS akan terkucil dan tidak akan mendapat dukungan dari pemerintahan baru Mesir.

Dia juga menyatakan bahwa siapapun di Mesir tidak akan mampu memprediksi keadaan, sebab sudah terbukti bahwa Hosni Mubarak yang didukung 500,000 personil pasukan keamanan ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut Barak, pasukan itu ternyata tidak mampu memberitahukan kepada Mubarak mengenai apa yang akan terjadi.

Mengenai kondisi Timur Tengah secara umum, Barak mengklaim bahwa peristiwa paling krusial yang terjadi sekarang bukanlah proses perdamaian Palestina-Israel, melainkan konflik Sunnah-Syiah dan peranan Iran di dalam konflik ini. Klaim ini seakan membuktikan lagi bahwa Israellah yang paling bergembira dan diuntungkan oleh “Iranfobia” dan perpecahan dalam tubuh umat Islam. (mm/fna/gateahram)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL