pasukan suku yaman2Aden, LiputanIslam.com – Menlu Yaman pada pemerintahan presiden tersingkir Abd Rabbuh Mansour Hadi, Abdel Malik al-Mekhlafi, menyatakan bahwa menyusul adanya desakan internasional Mansour Hadi menyepakati gencatan senjata selama tiga hari atau 72 jam. Bersamaan dengan ini suku-suku di provinsi di Sanaa justru menyatakan bangkit mengangkat senjata untuk membalas kejahatan Arab Saudi dan sekutunya.

“Presiden menyepakati gencatan senjata selama 72 jam, dan dapat diperpanjang apabila pihak lawan konsisten,” tulis al-Mekhlavi di halaman Twitternya, Senin (17/10/2016), sembari menyebutkan pengaktifan komisi pengawas gencatan senjata dan diakhrinya blokade kota Taiz.

Hal ini dinyatakan setelah Amerika Serikat, Inggris dan Utusan PBB untuk Yaman menyerukan semua pihak yang bertikai di Yaman agar memberlakukan gencatan senjata selama beberapa hari.

Sebelumnya, Utusan PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheickh Ahmed di London, Inggris, mengatakan, “Kami di sini adalah untuk menuntut gencatan senjata secepatnya yang akan diumumkan pada beberapa jam mendatang.”

Dia juga mengaku terus berkomunikasi dengan perunding senior Ansarullah (Houthi) dan pemerintahan Mansour Hadi.

Al-Mekhlafi menambahkan, “Kami menegaskan lagi dukungan kami kepada upaya-upaya yang dilakukan oleh Utusan PBB Ismail Ould Cheikh Ahmad.”

Menurutnya, pemerintahan Hadi menyambut “positif” seruan internasional demi perdamaian.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa Cheikh Ahmad mengumumkan gencatan senjata dimulai pada hari Rabu pukul 23.59 waktu Yaman.

Suku-Suku Provinsi Sanaa Bangkit

Di hari yang sama, sebanyak tujuh suku Khulan al-Tayyal di provinsi Sanaa menggelar pertemuan adat dan menyerukan mobilisasi umum untuk melawan “barbarisme” Arab Saudi terhadap Yaman.

Mereka menegaskan keberpihakan mereka kepada tentara Yaman dan pasukan komite-komite rakyat di medan pertempuran, dan kesiapan mereka untuk mengorban harta dan jiwa demi membela tanah air  Yaman.

Mereka menegaskan sudah menyiapkan para pejuang dari masing-masing suku untuk terjun secepatnya ke medan perang demi membalas semua kejahatan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, terutama kejahatan dalam tragedi Sanaa yang menggugurkan puluhan tokoh masyarakat Khulan al-Tayyal.

PBB mencatat bahwa selama pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang Yaman sejak Maret 2015 sampai sekarang sebanyak hampir 6900 orang tewas, 35000 luka, dan sedikitnya tiga juta orang mengungsi.

Namun demikian, kementerian kesehatan pada pemerintahan Ansarullah dan sekutunya dalam jumpa pers di Sanaa Senin (17/10/2016) menyatakan jumlah korban tewas 8000 orang, termasuk korban tragedi Sanaa, dan korban luka lebih dari 19500 orang. (mm/afp/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL