madawi al-rasheed2London, LiputanIslam.com – Aktivis dan intelektual berdarah Arab Saudi Madawi al-Rasheed yang tinggal di London, Inggris, mengaku prihatin dan cemas terhadap rakyat Saudi yang seharusnya berhak menjadi “putera mahkota bagi negerinya sendiri”.
Hal ini dia nyatakan dalam pesan Twitternya menyusul dekrit Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz, berupa pencopotan Putera Mahkota Muqrin bin Abdulaziz al-Saud dan

Menteri Luar Negeri Saud bin Faisal bin Abdulaziz al-Saud dari jabatan penting masing-masing. Sebagaimana pernah diberitakan, sesuai dekrit itu masing-masing petinggi Saudi itu digantikan oleh Mohammad bin Nayef bin Abdulaziz al-Saud dan Adel bin Ahmed al-Jubeir. (Baca: Gempa Politik di Saudi, Putera Mahkota dan Menlu Saudi Dicopot)

Al-Rasheed mengaku kuatir terhadap nasib rakyat Saudi yang “termakzul” karena harus “berbaiat dan berbaiat lagi hingga tercerailah mereka dari haknya untuk menjadi putera mahkota di negeri mereka sendiri.”

“Pendirian lembaga-lembaga seperti Dewan Baiat yang pada akhirnya tetap dikesampingkan oleh dekrit raja menunjukkan bahwa di Saudi tidak ada reformasi kecuali sebatas fenomena media, dan negara ini tetap tersandera oleh dekrit raja,” kicaunya beberapa jam lalu.
Dia menambahkan bahwa Saudi tetap akan menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki lembaga yang merepresentasikan rakyat, tidak memiliki masyarakat madani yang memiliki hak berpendapat, dan reformasi politik tetap menjadi ilusi besar di era kekuasaan dua (pangeran) Mohammad.”

“Tak ada agenda reformasi politik maupun tekanan rakyat dan pergerakan. Yang ada hanyalah sebuah bangsa yang bertambah dari segi jumlah di sebuah negara yang mengabaikan jutaan manusia yang tidak memiliki apapun kecuali mendengar dan tunduk,” imbuhnya.

Aktivis HAM dan akademikus Middle East Center LSE, London, ini juga menyinggung soal serangan Saudi terhadap Yaman.
“Ketersibukan orang-orang Saudi dengan perang rezim mereka di luar negeri membuat mereka menjadi ekstrimis, tegang dan terjauh dari pemikiran mengenai masa depan dalam negeri.”

Dibagian akhir kicaunya dia menuliskan, “Jangan salahkan sistem yang mengabaikan rakyat yang terisolasi dan puas dengan pengisolasian ini. Sistem demikian adalah bahan bakar bagi pemerintahan diktator yang hidupnya bergantung pada stagnasi masyarakat.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL