Israels-foreign-ministerTel Aviv, LiputanIslam.com – Rezim Zionis Israel mengaku sudah lama intensif mengadakan pembicaraan rahasia dengan sejumlah negara Arab untuk menggalang hubungan diplomatik berdasar “ketakutan kolektif” terhadap Iran.

Dalam keterangannya kepada Harian Yedioth Aharonot terbitan Israel, Menteri Luar Negeri (Menlu) Israel Avigdor Lieberman menyebutkan sejumlah negara Arab itu antara lain adalah Arab Saudi dan Kuwait.

Pernyataan demikian merupakan pertama kalinya dilontarkan oleh pejabat tinggi Tel Aviv, namun  segera dibantah oleh Arab Saudi dan Kuwait. Keduanya menyatakan tidak ada pembicaraan apapun dengan Israel.

Menurut Lieberman, sentimen anti Israel menyurut akibat membengkaknya kekuatiran terhadap proyek nuklir Iran, menguatnya sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah, dan merebaknya kecemasan terhadap ekstrimisme Islam. Dia menambahkan bahwa untuk pertama kalinya terjalin kesepahaman Arab-Israel bahwa bahaya yang sesungguhnya bukanlah Israel atau Yahudi atau Zionisme, melainkan Iran, “jihadis global”, Hizbullah dan jaringan teroris al-Qaida.

Lieberman yang berasal dari kelompok kanan dalam pemerintahan koalisi Israel menambahkan, “Telah terjadi kemunikasi dan pembicaraan, namun kami sudah sangat dekat dengan tahap di mana masalah ini tidak akan tersembunyi lagi, yakni sekitar satu tahun atau 18 bulan lagi masalah ini akan terpublikasi.”

Menlu Israel menyatakan komunikasi itu dilakukan dengan negara-negara Arab “moderat”, yaitu istilah yang biasa digunakan Israel untuk menyebut beberapa negara Arab di kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah yang selama ini dikenal sebagai sekutu Amerika Serikat. Dia juga mengaku tidak akan ada kesulitan apapun seandainya dia hendak berkunjung ke Saudi atau Kuwait. “Sudah sekian tahun saya mengadakan pertemuan dan pembicaraan dengan mereka, dan ini menunjukkan  adanya satu kartu merah, yaitu Iran,” ujar Lieberman.

Dalam beberapa bulan terakhir Lieberman gigih berusaha menetralisir citranya sebagai sosok penganut garis keras di pentas internasional. Dia mengisyaratkan bahwa sebagian negara Arab itu sangat mengutamakan upaya menjaga interes kolektif Arab-Israel.

Yedioth Aharonot mengutip pernyataan Lieberman bahwa perjanjian damai baru Arab-Israel akan diteken pada tahun 2019. “Saya yakin bahwa saat itu kami sudah berada dalam kondisi di mana kami dapat dapat menikmati hubungan diplomatik sepenuhnya dengan sebagian besar negara Arab moderat,” ungkap Lieberman.

Di pihak lain, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan pihaknya sama sekali tidak menjalin hubungan ataupun melakukan pembicaraan dengan Israel di level manapun. Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Wakil Menlu Kuwait, Khalid al-Jarallah. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL