Salah satu sekolah yang hancur di Yaman diserang koalisi pimpinan Arab Saudi.

Sanaa, LiputanIslam.com –  Direktur HAM untuk Yaman, Kim Sharif, dalam wawancara dengan RT yang dilansir Minggu lalu (5/2/2017) menyatakan rakyat Yaman mengecam kebungkaman khalayak dunia, terutama Dewan Keamanan PBB, terhadap kejahatan Arab Saudi dan sekutunya yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Yaman.

Seperti diketahui pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi itu melancarkan serangan ke Yaman sejak 2015 sampai sekarang dan sejak itu sebanyak lebih dari 10,000 orang terbunuh, dan berbagai lembaga peduli mengecam serangan ini karena banyak warga sipil menjadi target serangan.

Ditanya mengenai apa perbedaan Yaman dan Suriah sehingga Barat bungkam dalam masalah Yaman tapi sangat vokal dalam masalah Suriah di mana mereka menuduh Rusia menyerang dan membunuhi warga sipil, Kim Sharif memastikan adanya hipokrasi pada masyarakat internasional akibat kepentingan geopolitik in perairan Yaman, teruma di Bab al-Mandeb yang sangat penting bagi seluruh masyarakat dunia.

Dia mengingatkan bahwa menurut laporkan PBB, 60 persen korban serangan udara pasukan koalisi pimpinan Saudi adalah warga sipil.

“Mereka sengaja menarget area sipil. Contohnya, 800 kali sekolah-sekolah diserang. Mengapa seseorang harus menyerang sekolah?  Jelas ada kebutuhan untuk semata-mata membunuh orang sebanyak mungkin dan memaksa mereka menerima seorang presiden yang dipilihkan untuk mereka oleh koalisi Saudi, bersama juragan yang mendiktekan kepadanya apa yang harus  dilakukan,” terangnya.

Menurutnya, rakyat Yaman memandang al-Qaeda dan semisalnya sebagai produk dan proksi rezim AS melalui “bonekanya” di Timteng, Arab Saudi.

“Kami sekarang mengetahui bahwa al-Qaeda dan semua yang terlibat dalam terorisme 9/11 terkait dengan keluarga kerajaan Arab Saudi. Serangan harusnya dilakukan terhadap Riyadh, bukan Yaman. Drone seharusnya dikirim ke Riyadh, bukan Shabwah dan Abyan, Yaman selatan. Ketika Angkatan Laut (AL) AS mendarat di Shabwah sebulan lalu mereka menembaki segala sesuatu yang bergerak; anak kecil, para korban hanyalah perempuan dan anak kecil… Ini bencana bagi masyarakat internasional,” ungkapnya.

Kim Sharif memastikan semua organisasi teroris dengan nama masing-masing adalah milik rezim Saudi.

Dia menjelaskan, “Mereka memiliki nama-nama yang berbeda. Mereka di Afghanistan mereka disebut Taliban, di Somalia disebut al-Shabaab, di negara-negara Arab disebut al-Qaeda atau ISIS. Mereka adalah milik rezim Saudi. Rezim Saudilah yang perlu ditindak di sini, bukan (malah dilakukan) pembunuhan warga sipil tak berdosa di Yaman selatan.” (mm/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL