dar ifta misrKairo, LiputanIslam.com – Lembaga Fatwa Mesir menyatakan bahwa referensi pemikiran kelompok teroris negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam aksi penyembelihan manusia tak lain adalah pemikiran kaum Khawarij yang merupakan kaum yang pertama memraktik perbuatan yang sangat keji ini di tengah umat Islam.

Sebagaimana dilaporkan Asharq Alawsat Minggu (1/2/2015), lembaga Observatorium Takfir (Murshid al-Takfir) yang bernaung di bawah Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta’ al-Misriyyah) dalam laporan terbarunya mengenai praktik dan keyakinan penyembelihan menurut organisasi teroris menyebutkan bahwa faktor yang mendorong ISIS melakukan perbuatan keji itu ialah pelampiasan sadisme ISIS yang sudah “ketagihan melihat darah” sehingga melihat kepala yang terpenggal menyebabkan mereka mabuk persis seperti pecandu narkoba.

Setelah itu, beberapa faktor lainnya ialah mempengaruhi penduduk supaya mematuhi perintah mereka dan bergabung dalam kekuasan mereka, memompa mentalitas para petempur ISIS dengan cara memamerkan kekuatan dan kekuasaannya, dan menyampaikan pesan kepada musuh-musuhnya bahwa seperti itulah nasib orang yang melawan mereka.

Lembaga Observatorium Takfir menjelaskan bahwa kelompok teroris sengaja menakwilkan secara sembarangan beberapa hadis dan riwayat sebagai pembenaran atas aksi kejinya. Mereka telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan para petempurnya menyembelih siapapun yang melawan mereka. Mereka menganggap penyembelihan sebagai “kewajiban Islam yang telah hilang”.

Padahal, lanjut lembaga Mesir tersebut, Allah Swt mengutus rasulNya dengan hidayah, keadilan dan rahmat. Karena itu, Islam menerapkan ketentuan yang antara lain mengharuskan perlakuan secara adil dan baik terhadap tawanan serta sesuai dengan martabat tawanan sebagai manusia berupa penyediaan tempat tinggal dan makanan yang layak serta perlakuan yang ramah dan tidak ada penyiksaan dan penganiayaan terhadap mereka.

Observatorum Takfir menyatakan, “Semua ini berkenaan dengan kondisi perang umat Islam melawan musuh-musuhnya demi membela agama dan tanah airnya. Sedangkan apa yang terjadi di masa kita sekarang sama sekali tidak layak disebut perang, melainkan kejahatan dalam arti yang sesungguhnya. Sebab mereka membunuh, memenggal dan mengusir orang-orang Muslim dan non-Muslim yang sebelumnya hidup dalam kondisi tentram di negeri mereka. Islam sama sekali tidak mensyariatkan pembunuhan terhadap orang-orang tersebut.”

Karena itu, ungkap lembaga tersebut, pemahaman menyimpang dan penuh kebencian yang ditunjukkan ISIS jelas salah dan menyalahi semua kaidah ushul, dan tidak ada nash syariat sahih dan tegas yang membolehkan penyembelihan musuh hidup-hidup. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL