brahimi esLondon, LiputanIslam.com – Mantan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab untuk perdamaian Suriah, Lakhdar Brahimi, menduga bahwa serangan senjata kimia yang pernah terjadi di Aleppo dilakukan dan dimulai oleh kelompok oposisi Suriah.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel dia mengatakan bahwa gerilyawan Suriah setidaknya berada di balik serangan dengan senjata terlarang tersebut di provinsi Aleppo pada Maret 2013.

“Dari sedikit apa yang saya ketahui tampak bahwa senjata kimia pertama kali digunakan di Khan al-Assal, di utara, dan kemungkinan digunakan oleh oposisi,” ujar Brahimi, sebagaimana juga dikutip harian Ha-aretz terbitan Israel Minggu (8/6/2014).

Penyelidik PBB hingga kini belum membuat tuduhan langsung mengenai pihak mana yang bertanggung jawab atas beberapa serangan kimia, termasuk serangan gas sarin yang menewaskan ratusan orang di luar Damaskus pada Agustus tahun lalu.

Brahimi sendiri mundur dari jabatannya pekan lalu setelah perundingan yang dia mediasi di Genewa membentur jalan buntu.

Dia mengingatkan kemungkinan Suriah terpuruk menjadi Somalia jilid II. Dia mengatakan bahwa tanpa ada upaya kolektif untuk mendapatkan solusi bagi perang Suriah maka “akan terjadi resiko serius yang dapat meledakkan seluruh kawasan”.

“Konflik ini tidak hanya akan bertahan di Suriah,” ujar Brahimi.

Brahimi menyesalkan sikap beberapa negara yang telah salah perhitungan dalam memandang Suriah sehingga berharap pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan terguling sebagaimana dialami beberapa pemimpin Arab lain. Menurut Brahimi, kesalahan mereka diperparah dengan mendukung “upaya perang, bukan upaya perdamaian.”

Seperti diketahui, perang Suriah yang berkobar sejak Maret 2011 akibat aksi pemberontakan dan radikalisme telah merenggut lebih dari 160,000 nyawa serta menyebabkan ribuan orang mengungsi.

Para pemberontak dan kaum ekstrimis didukung oleh beberapa negara Barat dan sekutu mereka di Timur Tengah, khususnya Qatar, Arab Saudi dan Turki, menyebabkan Tentara Arab Suriah (SAA) sempat kewalahan dalam proses penumpasan mereka. Belakangan tentara pemerintah Suriah itu mencapai banyak kemajuan dalam proses penumpasan mereka di banyak kawasan. Hingga kini SAA masih dalam proses pembersihan keberadaan kelompok-kelompok bersenjata yang masih bertahan di sekitar 20 persen wilayah Suriah. (mm/alarabiya/haaretz/albawaba/alyatternews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL