kunjungan menlu suriah ke aljazairLondon, LiputanIslam.com – Sejak Suriah dilanda krisis perang saudara dan terorisme pemerintah Damakus pimpinan Presiden Bashar al-Assad selalu menjadi bulan-bulanan rezim-rezim petrodollar Arab hingga kemudian dihajar aksi boikot di dunia Arab berkat kekuatan dana dan propaganda rezim-rezim konservatif tersebut. Namun demikian, boikot itu sekarang memulai kehilangan maknanya, sebagaimana terlihat dari kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Suriah Walid Moallem ke Aljazair.

“Kunjungan Menlu Suriah Walid Muallim ke Aljazair dalam situasi sekarang menjadi pertanda keruntuhan boikot politik dan diplomatik terhadap Damaskus,” tulis portal Rai al-Youm yang bermarkas di London, Inggris, Rabu (30/3).

Tak kurang, kunjungan ini dilakukan bukan dengan inisiatif pemerintah Suriah ini, melainkan demi memenuhi undangan Menlu Aljazair Ramtane Lamamra.

Sejak awal Aljazair memang memilih tak sejalan dengan kehendak Amerika Serikat dan rezim-rezim Arab yang bersekutu dengan Gedung Putih. Seperti halnya Rusia, Tiongkok, Iran, dan Oman, Aljazair tetap menjalin hubungan diplomatik dengan Suriah dan tak menggubris badai propaganda anti-Suriah.

Pernyataan Moallem ketika tiba di Bandara Aljir, ibu kota Aljazair, Selasa (29/3), menjadi daya tarik tersendiri.

“Aljazair dan Suriah berada di satu kubu kontra-terorisme dan anti campur tangan asing terhadap urusan internal negara-negara lain,” katanya.

Menurut Rai al-Youm, Suriah berhutang budi kepada Aljazair karena Aljir berani bangkit melawan arus raksasa yang bernama koalisi AS-Arab yang mengepung Suriah sembari bersumpah untuk menggulingkan pemerintahan al-Assad.

Tapi di saat yang sama, Aljazair juga berhutang budi kepada Suriah karena perlawanan Suriah mati-matian terhadap kekuatan raksasa yang juga memperalat para ekstrimis itu pada akhirnya juga meredakan ancaman besar yang mengintai Aljazair. Sebab, sesuai data-data yang ada, jika pemerintah Suriah berhasil digulingkan, maka sasaran selanjutnya dalam agenda kekuatan raksasa itu adalah Aljazair.

Kunjungan Menlu Suriah juga dilakukan pada momen yang tepat, sebab keberhasilan pasukan Suriah membebaskan kota purbakala Palmyra beberapa hari lalu dari gerombolan teroris terbengis dan paling brutal di dunia, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), mendapat sambutan dari khalayak internasional, dan ini menunjang proses keterbebasan Suriah dari kondisinya yang sudah sekian tahun ini terkucil dalam pergaulan internasional. (Baca: Tentara Suriah Bebaskan Kota Palmyra, 450 Anggota ISIS Tewas)

Dan belum lama ini, berkat sepak terjang Rusia dalam upaya meredakan krisis Suriah, Perancis yang notabene musuh pemerintah Suriah akhirnya mengirim delegasi tingkat tingginya ke Damaskus untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden Bashar al-Assad.

Rai al-Youm menilai tidak kecil kemungkinan dalam waktu dekat Menlu Suriah juga akan menjejakkan kakinya di berbagai negara lain, baik Arab maupun non-Arab. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL