تصعيد وتظاهرات حاشدة لحركة انصار الله ضد الحكومةSanaa, LiputanIslam.com – Krisis politik di Yaman yang ditandai dengan berlanjutnya demo besar-besaran kian memanas setelah presiden negara ini, Abd Rabbuh Mansur Hadi menolak inisiatif para tokoh adat untuk meredakan kobaran krisis.

Unjuk rasa damai besar-besaran yang diserukan oleh pemimpin Gerakan Ansarullah, Abdul Malik al-Houthi, telah memasuki babak ketiga di mana para pengunjuk rasa berkonsentrasi di depan kantor pusat pemerintahan dan beberapa kantor kementerian serta jalanan sekitar bandara Sanaa, ibu kota Yaman.

Dikhawatirkan massa dalam jumlah besar itu akan menjurus pada aksi kekerasan untuk menggulingkan pemerintah demi menyukseskan tuntutan mereka. Kekhawatiran itu memuncak setelah aparat keamanan mulai menggunakan pendekatan represif untuk membubarkan aksi massa.

Menurut laporan lembaga pemberitaan al-Mayadeen Ahad (7/9), aparat keamanan telah berusaha membuyarkan konsentrasi massa di jalanan sekitar bandara dengan menembakkan gas air mata dan bahkan dengan melepaskan peluru timah, mengakibatkan beberapa demonstran cidera.

Para demonstran pendukung al-Houthi sejak awal pekan lalu meningkatkan intensitas aksinya dengan mendirikan tenda-tenda konsentrasi baru di dekat Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Listrik dan Komunikasi di Sanaa.
Aksi mereka berlanjut walaupun Presiden Yaman sudah menurunkan dua pertiga volume kenaikan harga bahan bakar minyak yang dia canangkan sebelumnya. Dia bahkan menyatakan siap merombak struktur pemerintahannya.
Saat menolak inisiatif para pemimpin adat, Presiden Mansur Hadi menuduh para demonstran berusaha mengobarkan api di Yaman serta menempuh jalur yang tidak demokratis.

Para pengamat menilai inisiatif yang disetujui oleh al-Houthi itu telah membuka kesempatan untuk mempertemukan tuntutan rakyat dengan operasi pembentukan pemerintahan berdasar ketetapan dialog nasional. Menurut mereka, sebagaimana dilaporkan Alalam, penolakan itu hanya akan membuat keadaan menjadi semakin runyam, sebab inisiatif tersebut merekomendasikan revisi terhadap ketentuan-ketentuan pemerintah yang dinilai menyalahi hasil dialog nasional dan partisipasi semua pihak dalam pembentukan pemerintahan dan pendudukan pos-pos kementerian. Inisiatif itu juga menyerukan penurunan harga BBM serta pembentukan pemerintahan baru untuk menyudari aksi unjuk rasa.

Kelompok al-Houthi sendiri menuntut pembubaran pemerintahan Mansur Hadi, pencabutan kenaikan harga BBM dan penciptaan iklim yang lebih mendukung partisipasi politik semua komponen masyarakat dan bangsa di kancah politik negara ini.

Yaman hingga sekarang masih berkutat pada proses transisi politik sejak periswa demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada tahun 2012 dan berujung pada pelengseran diktator Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL