London, LiputanIslam.com –  Ahmad al-Qaisi, pengamat asal Irak yang tinggal di Uni Emirat Arab menilai kecil kemungkinan Pakistan akan bersikap frontal terhadap Iran seberapa besarpun insentif yang ditawarkan oleh blok Arab Saudi yang didukung oleh Amerika Serikat (AS).

“Sedapat mungkin Pakistan akan tetap bersikap netral karena Iran dapat menggoyang keamanan dalam negerinya. Sebab, Iran dapat menghentikan perdagangan dan program pasokan listrik, sebagaimana juga dapat memicu problematika di Baluchistan melalui para ekstrimis Syiah di Pakistan,” tulisnya di media online Ray al-Youm, Rabu (21/6/2017).

Dia menambahkan bahwa komandan angkatan bersenjata Iran, Mohammad Bagheri, sebelumnya telah melontarkan ancaman bahwa Iran akan menyasar “tempat-tempat perlindungan para teroris melalui perbatasan Pakistan jika serangan teror melalui perbatasan tidak berhenti.”

Menurutnya, Iran juga mengancam akan mengejar kelompok al-Baluch dan Jaish al-Adl di provinsi Baluchistan, dan telah menempatkan puluhan tank, mobil lapis baja, mesin-mesin perang dan rudalnya di Mirjaveh dekat perbatasan Pakistan. Hal ini mendorong Kemlu Pakistan menyatakan bahwa kehadiran Pakistan dalam KTT Riyadh belum lama ini bukan berarti bahwa Pakistan mendukung kebijakan Riyadh anti-Iran.

Al-Qaisi juga menjelaskan bahwa krisis Qatar juga berpengaruh terhadap perekonomian  Pakistan, terutama di bidang energi. Pakistan bersikap netral dalam krisis ini demi menjaga kepentingan vitalnya, karena Pakistan mengimpor sekira 500 juta kubik gas alam dari Qatar. Selain itu, pada tahun lalu Pakistan juga telah meneken kesepakan impor gas Qatar sebesar 35 juta ton untuk jangka waktu 15 tahun , dan Pakistan tentu tidak siap membatalkan perjanjian ini. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL