suriah palmyraBeirut, LiputanIslam.com –  Kota kuno Palmyra (Tadmur) dikabarkan jatuh lagi ke tangan pasukan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Rabu (20/5).

Sebagaimana dilaporkan Reuters, lembaga Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menyatakan ISIS berhasil menguasai Palmyra setelah terlibat pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah Suriah. Menurut SOHR, ISIS hampir menguasai sepenuhnya kota bersejarah itu.

Sebelumnya, AFP dari Beirut juga mengutip pernyataan para aktivisi Suriah bahwa pertempuran sengit pecah lagi antara ISIS dan tentara Suriah di pinggiran utara dan timur Palmyra.

SOHR menjelaskan bahwa pertempuran paling sengit terjadi di dekat gedung-gedung kepolisian di utara Palmyra, termasuk kantor cabang keamanan dan penjara di bagian timur Palmyra.

Belum ada ada komentar dari pemerintah Damaskus terkait kabar tersebut.

Kota kuno Palmyra sebelumnya juga sempat dikuasai oleh ISIS hingga kemudian pada Minggu lalu (17/5)  terbetik kabar dari Gubernur Provinsi Homs, Suriah, Talal al-Barazi, bahwa kota itu kembali direbut oleh pasukan Suriah melalui pertempuran yang juga sengit.

Saat itu SOHR mencatat ada ratusan korban tewas dalam pertempuran itu, meliputi 115 teroris ISIS, 57 warga sipil dan 123 pasukan pro pemerintah Suriah, sementara keterangan Gubernur Homs yang  dilansir AFP menyebutkan bahwa korban tewas di pihak ISIS mencapai lebih dari 130 orang.

Saat itu pula Dirjen Dinas Pelestarian Peninggalan Purbakala Suriah Maamun Abdulkarim mengaku lega setelah sempat tegang dan panik mendengar kabar terjadinya pertempuran sengit di sekitar Palmyra.

Dalam laporan SOHR mengenai pertempuran terbaru di kota kuno Rabu kemarin belum disebutkan jumlah korban.

CNN menyebutkan bahwa Palmyra merupakan situs sejarah yang berusia 2.000 tahun dan tercatat dalam daftar situs bersejarah UNESCO. Karena itu, banyak pihak khawatir terhadap nasib situs ini di tangan ISIS yang dikenal sebagai ekstrimis brutal yang gemar menghancurkan situs sejarah sebagaimana kerap terjadi di Irak, termasuk situs situs kota kuno Assyrian, dan peninggalan bersejarah di museum Mosul.

Otoritas Suriah mengatakan masuknya ISIS ke Palmyra tak ubahnya dengan kehancuran.

Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova menyerukan perlindungan situs itu. Dalam statemennya dia menegaskan, “Situs itu sudah terkena dampak empat tahun konflik, dijarah dan merupakan harta yang tak tergantikan bagi rakyat Suriah dan bagi dunia.”

Palmyra yang juga dikenal dengan sebutan “Pengantin Gurun” merupakan puing di tengah gurun yang semula merupakan kota monumental dalam rute perniagaan yang menghubungkan Persia, India, dan Tiongkok dengan Kekaisaran Romawi.

Keberadaannya sebagai kota persinggahan di persimpangan peradaban kuno terlihat dari paduan corak arsitektur kuil-kuil dan pilar-pilarnya.

Sejarawan dan novelis Inggris Tom Holland menyebut situs itu sebagai kombinasi hebat pengaruh klasik, Iran, dan Arab. Karena itu dia memastikan bahwa jika Palmyra sampai hancur maka hal ini bukan hanya merupakan kehilangan bagi Suriah, melainkan juga bagi seluruh masyarakat dunia. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL