Riyadh, LiputanIslam.com –  Koran al-Riyadh milik Arab Saudi memuat artikel Ahmad al-Jam’iyyah yang menyebut gejolak Palestina-Israel sebagai krisis yang dibuat-buat untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis Qatar.

Ahmad al-Jam’iyyah menuliskan, “Azmi Beshara (Dirjen Pusat Riset dan Kebijakan Arab) dan orang-orang yang bersamanya tidak menyadari bahwa sikap, kesolidan, posisi dan hasrat Kerajaan Arab Saudi melampaui perhitungan para pebisnis dan penunggang perkara. Prinsip-prinsip yang ada tidak berantakan, tidak berubah, dan tidak terdikte oleh kepentingan sesaat atas kepentingan yang lebih besar untuk penyelesaian krisis Palestina secara lebih signifikan, dan ujung-ujungnya, pintu al-Aqsa kembali terbuka, sementara Qatar tetap terisolasi.”

Al-Jam’iyyah kemudian memuji Raja Salman dari Arab Saudi sebagai orang yang tak banyak bicara di saat-saat krisis melainkan selalu berbuat secara kongkret dengan penuh kesabaran, hikmat, dan kebijaksanaan tanpa heboh, penunggangan krisis, dan keraguan dalam pengambilan keputusan.

“Gerakan Rajam Salman menuju al-Aqsa sangat penting dalam pemilihan waktu yang tepat, upayanya membuahkan hasil, dan telah memberikan pelajaran yang telak kepada orang-orang bayaran bahwa Palestina bukanlah urusan sekelompok orang bayaran, melainkan urusan seluruh umat Islam yang mulia. Sebagaimana pintu-pintu al-Aqsa terbuka lagi bagi umat Islam, pintu-pintu perundingan dengan Israel juga akan terbuka, dan ketika itulah tidak akan ada lagi pebisnis murahan yang mengatas namakan umat Islam dan kesuciannya, atau bertaruh dengan Israel semata,” lanjut al-Jam’iyyah.

Tulisan di koran al-Riyadh ini merupakan bentuk pembelaan atas Raja Salman Bin Abdul Aziz yang belakangan mendapat cemoohan dari publik karena di saat Masjid al-Aqsa dilanda gejolak hingga jatuh beberapa korban jiwa dia malah liburan panjang dan menikmati rekreasi di kota Tangier (Tajnah), Maroko. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL