iran_film nabi muhammadKairo, LiputanIslam.com – Film epik riwayat hidup Muhammad SAW sebelum menjadi nabi yang baru diputar di seantero Iran mendapat kecaman dari sebagian kalangan di beberapa negara Arab. Pasalnya, dalam film karya sineas Iran berdurasi 171 menit itu terdapat adegan yang dinilai sebagai visualisasi nabi.

Menanggapi kritikan ini, sebuah artikel di koran al-Ahram terbitan Mesir, Kamis (3/9), menyatakan bahwa sebagian orang memperlakukan para nabi seolah sebagai hak miliknya sendiri.

“Entahlah, mengapa sebagian orang justru memperlakukan para nabi sebagai hak miliknya sendiri, membuat perintah dan larangan soal ini, dan mengeluarkan fatwa boleh dan tak boleh berkenaan dengan para nabi tanpa didukung dokumen tekstual (syar’i) maupun alasan rasional (aqli) sama sekali,” tulis al-Ahram dalam artikel karya Dr. Waheed Abdul-Majeed tersebut.

Pakar hukum di Al-Ahram Centre for Political and Strategic Studies ini menyatakan bahwa orang-orang itu tak hanya memandang dirinya sebagai pewaris agama Islam, melainkan juga sebagai pewaris semua agama dan nabi, dan mereka menetapkan larangan visualisasi para nabi pada segala bentuk karya seni.

Kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebut kecaman itu berlebihan karena dalam film yang menguras anggaran sebesar 40 juta dolar Amerika Serikat itu sama sekali tidak ada visualisasi wajah atau fisik Nabi Muhammad SAW.

IRNA mengutip pernyataan Majid Majidi yang menyutradari film berjudul “Muhammad: The Messenger of God” itu bahwa tidak ada adegan yang memperlihatkan wajah para pemeran Nabi Muhammad SAW di semua tahap usia beliau.

“Yang terlihat hanyalah pakaian warna putih yang mereka kenakan,” ujar Majidi. Dia menduga bahwa para pengecam film ini bisa jadi juga tidak mengetahui bahwa film ini hanya menampilkan riwayat hidup Nabi Saw dari masa kanak-kanak hingga masa remaja usia 13 tahun.

Menurutnya, semua ini membuktikan bahwa para pembuat film termahal dalam sejarah perfilman Iran ini telah berusaha semaksimal mungkin menjaga sensitivitas orang-orang yang merasa sebagai satu-satunya pihak yang berwenang membuat ketentuan mengenai para nabi.

Terlepas dari itu, Majidi optimis bahwa pemutaran film ini di berbagai festival film internasional, termasuk Festival Film Montreal ke-39 dan kehadiran film ini di tengah masyarakat dunia akan dapat membantu memperbaiki citra Islam yang belakangan terus dirongrong oleh merebaknya fenomena takfirisme, radikalisme dan terorisme yang dimunculkan atas nama Islam yang justru rahmatan lil alamin, penebar rahmat untuk seluruh alam. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL