Baghdad, LiputanIslam.com –  Pasukan federal Irak terlibat kontak senjata sengit dengan pasukan Kurdistan Irak, Peshmerga, Kamis (26/10/2017), ketika pasukan Irak bergerak menuju pintu perbatasan negara ini dengan Turki melalui jalur yang dilintasi pipa minyak besar di bagian utara Irak.

AFP melaporkan bahwa Peshmerga melepas peluru-peluru mortir dan rudal anti tank untuk menunjukkan perlawanannya terhadap gerak maju pasukan Irak yang didukung kelompok relawan al-Hashd al-Shaabi.

Sejak 16 Oktober lalu pasukan Irak menguasai penuh provinsi Kirkuk yang kaya minyak serta beberapa kawasan sengketa lain di provinsi Nineveh antara pemerintah pusat Irak dan pemerintah otonomi Kurdistan Irak yang belakangan telah menggelar referendum kemerdekaan.

Kamis pagi perlengkapan militer lapis baja Irak bergerak dari kawasan Zomar yang kaya minyak menuju barat laut Mosul dan berhasil menguasai beberapa desa, namun terjadi konfrontasi sengit di beberapa desa lain.

Dini hari sebelumnya otoritas Kurdi yang bermarkas di kota Arbil menyatakan bahwa pasukan Irak dan relawan al-Hashd al-Shaabi telah menyerang posisi-posisi Peshmerga pada pukur 03.00 waktu setempat dari front Zomar dengan menggunakan senjata berat.

Pemerintah pusat Irak yang berkedudukan di Baghdad berusaha mengamankan jalur pipa minyak yang menjalar hingga Pelabuhan Ceyhan, Turki, dengan menguasai jalur ini, terutama di pintu perbatasan Faysh Khabur yang terletak di pinggiran provinsi Dahuk yang dikuasai oleh Kurdistan.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa petinggi Partai Demokrasi Kurdistan pimpinan Masoud Barzani terbunuh akibat serangan mortir yang menerjang kawasan Zomar yang berada di bawah wilayah administrasi Sinjar.

“Pejabat cabang Sinjar Partai Demokrasi Kurdistan, Wahid Bakuzi, terbunuh dalam serangan mortir yang menyasar posisi-poisis Peshmerga di kawasan Zomar. Dua orang pengawal Bakuzi juga terbunuh dalam serangan ini,” ungkap seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Hubungan Baghdad – Arbil memanas dalam satu bulan terakhir akibat penyelenggaraan referendum kemerdekaan Kurdistan. Namun Rabu lalu pihak Kurdistan menyatakan “membekukan” hasil referendum ini dan mengusulkan perundingan dengan Baghdad setelah Kurdistan mendapat tekanan hebat di lapangan maupun di berbagai forum politik dalam dan luar negeri Irak.

Usulan ini ditolak oleh Perdana Menteri Irak, Haider Abadi, dengan menegaskan, “Kami tidak akan menerima kecuali dengan menganulir referendum dan berkomitmen kepada konstitusi.” (mm/rayalyoum/alsumarianews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL