Teheran, LiputanIslam.com – Aksi unjuk rasa yang belakangan ini marak terhadapnya minimnya layanan dan lowongan kerja di Basrah, Irak selatan, berdampak pada pembakaran gedung konsulat Iran di kota ini, setelah semula hanya pada serbuan dan pembakaran beberapa gedung pemerintah Irak.

Demonstran pada hari Jumat (7/9/2018) menerobos masuk ke gedung konsulat Iran sembari meneriakkan kecaman atas apa yang mereka sebut sebagai campur tangan Iran di Irak, dan gedung itu dilaporkan sudah kosong ketika didatangi ratusan massa.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran Bahram Ghassemi Jumat malam menyatakan pihaknya telah memanggil Dubes Irak untuk Iran untuk menyampaikan nota protes kerasnya atas insiden ini karena aparat keamanan Irak dinilainya tidak menjalankan tanggungjawabnya menjaga konsulat Iran.

Dia menyatakan Iran menuntut otoritas Irak agar secepatnya memburu, menangkap, dan mengadili para pelaku serangan tersebut.

Para pejabat keamanan Irak mengumumkan jam malam di kota di Basra yang dihuni oleh dua juta penduduk, dan memperingatkan bahwa “siapa pun yang ada di jalan” akan ditangkap.

Beberapa pengunjuk rasa tewas, dua di antaranya pada Jumat kemarin, yang sebagian besar jatuh dalam bentrokan dengan pasukan keamanan yang terjadi sejak Senin lalu.

Dalam peristiwa kemarin sebanyak 14 orang juga terluka, termasuk beberapa petugas keamanan.

Faris Shadad, anggota dewan perwakilan provinsi Basrah mengatakan bahwa cara penyelesaian temporal tidak merespon keadaan di kota ini.

Dia juga menyebutkan bahwa Perdana Menteri Irak Haeder Abadi meminta keterlibatan militer negara ini diperkuat di Basrah karena meluasnya unjuk rasa memerlukan penguatan pasukan keamanan.

Dilaporkan bahwa belakangan ini Iran memutus pasokan listriknya ke Irak dengan alasan Negeri 1001 Malam ini belum mampu membayar listrik. Pemutusan ini lantas memicu kemarahan para pengunjuk rasa. (mm/alalam/aljazeera/fars)   

  

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*