ISIS pasporSanaa, LiputanIslam.com – Membangun sebuah entitas, apalagi suatu negara, yang melibatkan banyak suku dan bangsa, seperti yang diilusikan oleh para ekstrimis anggota kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ternyata tak sesederhana seperti yang didengungkan ke mana-mana oleh kawanan paling ganas di dunia tersebut, apalagi ketika bawaan mereka adalah sifat-sifat kasar, tempramental, radikal dan ekstrem.

Pengamat terorisme Arab Salahuddin Hassan menyatakan bahwa ancaman terbesar bagi kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sekarang bukanlah serangan pasukan koalisi internasional, melainkan konflik internalnya sendiri.

“ISIS terdiri atas orang-orang dengan berbagai kewarganegaraan masing-masing sehingga memiliki berbagai pandangan yang berbeda, dan tak seperti yang dipikirkan oleh sebagian orang, ISIS bukanlah kelompok yang satu dan kompak melainkan kelompok yang diriuhkan oleh berbagai keyakinan dan pikiran,” ungkapnya dalam wawancara dengan lembaga pemberitaan Rusia, Sputnik, sebagaimana dilansir Nahrainnet, Rabu (10/2).

Menurut Hassan, serangan pasukan koalisi terhadap para teroris yang mengatas namakan agama Islam ini menghasilkan pukulan telak sehingga kelompok ini menjadi kehilangan markas utamanya dan pemimpinnya pun praktis juga kehilangan kendalinya terhadap anak buahnya.

Dia menambahkan bahwa keretakan dalam tubuh ISIS sebenarnya bukan isu baru, namun keretakan itu membesar setelah ada keputusan para petingginya untuk mengurangi gaji para anggotanya, serta diperparah oleh konflik-konflik bermotif kelas sosial.

Mengutip laporan Daily Express, Nahrainnet menyebutkan banyak anggota ISIS yang keluar dari ISIS dan menyeberang ke kelompok-kelompok lain yang bersaing sebagai sesama kelompok teroris atau membentuk kelompok-kelompok tandingan. Perselisihan semakin menggerogoti tubuh ISIS setelah para petingginya menurunkan gaji anggota akibat buyarnya jalur-jalur perdagangan minyak mereka secara ilegal di wilayah perbatasan Turki.

Dalam propagandanya, ISIS selalu menekankan persatuan dan persaudaraan antarsesama “mujahidin”, tapi faktanya faktor kebangsaan atau kewarganegaraan juga andil sebagai penyakit yang menggerogoti tubuh ISIS.

Salahuddin Hassan menjelaskan, “Di antara kawanan teroris itu ada warganegara Cechnya, Inggris, Maroko dan lain-lain yang masing-masing terlibat persaingan bermotif fanatisme kebangsaan, dan di saat yang sama sebagian petinggi ISIS juga berselisih hebat mengenai distribusi serta pengelolaan harta dan aset yang mereka miliki.” (mm)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL