oposisi suriah di saudiRiyadh, LiputanIslam.com – Faksi-faksi oposisi Suriah dalam konferensinya di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menghasilkan keputusan seperti apa yang diinginkan oleh rezim Saudi terkait krisis Suriah.

Sebagaimana dilansir Alalam, Kamis (10/12) konferensi itu menghasilkan penegasan bahwa di Suriah harus dibentuk sistem politik baru yang tidak melibatkan presiden Suriah Bashar al-Assad, dan bahwa kubu oposisi siap melakukan perundingan dengan delegasi pemerintah Suriah sesuai hasil perundingan Jenewa I.

Mereka menegaskan bahwa al-Assad harus meletakkan jabatannya bersamaan dengan dimulainya tahap pertama transisi. Mereka juga sepakat membentuk dewan tinggi perundingan yang bermarkas di Riyadh untuk menjalankan misi delegasi perundingan dan yang memegang otoritas negosiasi dengan pemerintah Suriah.

Sementara itu, kelompok Ahrar Sham, salah satu kelompok bersenjata terkemuka di Suriah, menyatakan keluar dari konferensi Riyadh karena menurutnya “faksi-faksi revolusi” bersenjata tidak diberi “porsi yang kongkret”.

Sekjen faksi gerakan Qamh, Haitham Manaa, malah sudah menyatakan keluar sebelum konferensi itu dimulai.

Koran Austria Der Standard menilai “konferensi demokrasi Suriah” sama halnya dengan konferensi-konferensi sebelumnya; justru dapat meningkatkan kemampuan kelompok teroris ISIS, termasuk karena konferensi itu tidak diawasi oleh PBB, serta melibatkan kelompok Ahrar Sham yang secara ideologis dekat dengan jaringan teroris al-Qaeda. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL