iran laksamana fadaviTeheran, LiputanIslam.com – Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Laksamana Ali Fadavi berbicara blak-blakan tentang sikap, kekuatan dan aksi-aksi pasukan elit Iran ini terkait keberadaan militer Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia, termasuk tentang pembuatan replika kapal induk Nimitz AS di Iran, kecepatan kapal perang Iran, dan torpedo supercepat Hoot (Shkval) yang dimiliki IRGC.

Fadavi memastikan bahwa kekuatan militer negaranya jauh di atas apa yang telah diketahui khalayak dunia. “Baik kawan maupun lawan kita hanya mengetahui sedikit tentang kekuatan AL IRGC. Mereka tidak tahu banyak. Kekuatan yang belum mereka ketahui ini kelak akan diketahui, entah dalam konteks pencegahan atau bisa jadi pula dalam gelanggang pertempuran. Betapapun demikian, dari pengetahuan yang sedikit itu saja musuh sudah gelisah, ” ujar Fadavi dalam wawancara yang dimuat FNA hari ini, Selasa (6/5/2014).

Fadavi menegaskan bahwa kapal-kapal induk AS terkontrol sepenuhnya oleh AL IRGC. “AS dan semua orang di dunia mengetahui bahwa salah satu tujuan operasi AL IRGC adalah memusnahkan AL AS,” tegasnya.

Mengenai kelemahan kapal induk AS, dia menyebutkan tidak ada salahnya jika buku karya Robert Gates yang menguak kelemahan kapal induk AS di depan IRGC dijadikan rujukan sehingga Pentagon diminta mengubah strategi maritimnya. Fadavi menilai pengubahan itu tidak mudah, namun mulai diupayakan oleh AS karena bagaimanapun juga memang harus mereka lakukan.

“Mereka mengakui bahwa kebesaran kapal perang AS justru membuatnya sangat mudah menjadi target serangan AL IRGC. Namun tentu kita memiliki analisa tersendiri yang sangat akurat tentang struktur dan desain kapal-kapal induk itu, dan kami tahu persis apa yang harus kami perbuat,” tuturnya.

Butuh 50 Detik Untuk Tenggelamkan Kapal Perang AS

Komandan AL IRGC menyebutkan bahwa kekuatan udara AS dalam pertempuran bergantung pada kapal induknya. “Karena itu,” ujar Fadavi, “wajar apabila kami bermaksud menenggelamkan kapal induk itu.”

Mengenai replika kapal induk Nimitz milik AS di Iran, Fadavi menilai orang-orang AS tidak banyak tahu tentang persoalan yang sebenarnya. “Pusat-pusat penelitian mereka memberikan analisis yang sangat awam tentang maket kapal induk yang kami buat, sementara sudah bertahun-tahun kami membuat maket kapal-kapal penjelajah, destroyer dan fregat AS dan menenggelamkannya. Bahkan dengan berbagai pola operasi kami dapat meneggelamkan replika kapal mereka hanya dalam tempo 50 detik,” papar Fadavi.

Dia menambahkan bahwa replika itu wajar dibuat karena tujuannya ialah supaya AL IRGC dapat berlatih perang secara lebih faktual dan alami. “Masalah ini juga kami lakukan pada maket kapal induk AS, karena menghancurkan dan menenggelamkan kapal induk AS juga sudah dan akan selalu menjadi bagian dari proyeksi kami,” jelas dia seraya menyebutkan bahwa untuk berlatih menggempur kapal induk AS pihaknya sedang membuat maket sebesar dua pertiga kapal induk AS, yakni sepanjang kurang lebih 202 meter.

“Orang-orang AS dalam medianya mengatakan bahwa dengan tindakan ini Iran bermaksud merendahkan AS. Padahal ini bukan untuk menghina mereka. Ini kami lakukan karena memang sudah jelas harus kami lakukan walaupun pada akhirnya membuat AS tercundangi dan terhina. Kami ingin menghantam dan menguasai kapal induk melalui sebuah operasi dan taktik yang dengan replika itulah kami berlatih,” ungkap Fadavi.

AL IRGC Kendalikan Sepenuhnya Selat Hormuz

Laksamana Fadavi memastikan bahwa AL IRGC mengendalikan sepenuhnya perairan strategis Selat Hormuz. “Sesuai hukum internasional kami berhak mengendalikan Selat Hormuz dan Teluk Persia. Karena itu jika kapal-kapal perang AS tidak merespon peringatan IRGC maka saat itu pula mereka melihat kapal-kapal perang kita mengepung mereka atau instalasi-instalasi rudal kita ‘mengunci’ mereka, tapi hal demikian jarang terjadi,” tandas dia.

Menurut Fadavi, sekarang laju kapal perang IRGC lebih cepat daripada kapal perang AS. “Dalam perang dulu kecepatan kapal kita hanya sekitar 20 knot, sedangkan kecepatan kapal perang AS 31 knot. Karena itu kami memroyeksikan penambahan kecepatan kapal perang kita dua kali kecepatan kapal perang AS, dan kami berhasil sejak beberapa tahun silam sementara kecepatan kapal perang AS masih bertahan pada 31 knot,” terang Fadavi.

Dia menambahkan bahwa dalam Repelita ke-5 pihaknya bermaksud mengembangkan kecepatan hingga lebih dari 80 knot atau tiga kali kecepatan kapal perang AS. Namun demikian, Fadavi mengakui bahwa AS telah melakukan perubahan strategi dan mengoperasikan beberapa jenis kapal perang yang sebelumnya tidak ada pada organisasi AL-nya.

Torpedo Supercepat “Hoot” Pecahkan Rekor Dunia

Mengenai kemampuan alutsista Iran, Komandan AL IRGC antara lain mengingatkan soal torpedo supercepat “Hoot” (Ikan Paus) yang kecepatannya telah mencetak rekor dunia. “Pada latihan perang pertama bersandi ‘Nabi Besar’ kami telah mendemonstrasikan torpedo Hoot yang merupakan rudal eksklusif buatan Rusia. Torpedo ini melesat di dalam air dengan kecepatan 100 meter per detik,” tutur Fadavi.

Dia menambahkan, “Mungkin sebagian fisikawan tidak percaya, tapi para pakar Rusia berhasil meraih teknologi ini, dan kami memanfaatkan dan memilikinya sejak sekian tahun silam.”

Menurut Fadavi, pemberitaan dunia seputar penggunaan torpedo ini dalam latihan perang tersebut juga mencetak rekor dalam sejarah pemberitaan tentang latihan perang, karena lebih dari 200,000 media dunia memberitakannya, sementara para petinggi politik dan militer AS didesak supaya mengambil sikap.

Dia mengatakan, “Bersamaan dengan sepak terjang orang-orang Rusia, selama 15 tahun AS telah menggelontorkan dana $20 milyar demi meraih teknologi ini namun gagal. Karena itu, pasca Uni Soviet AS mengirim salah satu agen CIA ke Rusia untuk mendapatkan torpedo itu melalui aksi spionase dan pencurian, namun otoritas Rusia berhasil mencokok agen tersebut dan kasus ini lantas menjadi skandal bagi AS selama enam bulan. Media Rusia setiap malam menayangkan pengadilan agen tersebut.”

Dengan demikian AS sudah menyadari kehebatan torpedo yang mereka ketahui bernama “Shkval” itu. Karena itu, lanjut Fadavi, wajar apabila terjadi reaksi sedemikian masif dan luas ketika IRGC mengumumkan penggunaan senjata supercanggih tersebut.

Saat ditanya dipasang di kapal IRGC yang manakah torpedo tersebut, Laksamana Fadavi menjawab singkat, “Nanti ketika sudah mengena orang-orang AS, barulah mereka dan Anda tahu dari satuan manakah torpedo ini diluncurkan.”

Di bagian akhir wawancara, Ali Fadavi menyinggung kemampuan kapal selam Iran. “Ada konsentrasi pada kemampuan kapal selam AL Iran. Kami memiliki definisi tersendiri tentang kapal selam, dan ini akan kami jelaskan pada momen yang tepat,” pungkas Fadavi. (mm/fna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL