amerika_Henry-KissingerBerlin, LiputanIslam.com – Mantan diplomat dan politikus kawakan Amerika Serikat (AS) Henry Kissinger mengakui negaranya salah membuat skenario penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

“Adalah kesalahan ketika sejak awal mengatakan bahwa Assad harus menyingkir, walaupun ini memang tujuan terakhir yang diinginkan,” kata peraih anugerah Nobel Perdamaian itu dalam wawancara dengan mingguan Jerman, Der Spiegel, yang dilansir Kamis (13/11).

Mantan Menteri Luar Negeri AS ini menambahkan, “Saya tidak setuju bahwa krisis Suriah dapat diartikan sebagai diktator kejam terhadap rakyat yang tak berdaya, dan bahwa rakyat akan menjadi demokratis jika Anda dapat menyingkirkan si diktator.”

Kissinger berpendapat bahwa sejak awal krisis Suriah “AS seharusnya menjalin dialog dengan Russia dan bertanya apa hasil yang kita inginkan di Suriah, dan merumuskan strategi bersama.”

Suriah dilanda krisis pemberontakan sejak tahun 2011 yang kemudian memancing kedatangan para ekstrimis pendukung jaringan teroris al-Qaeda dari berbagai negara dengan bantuan dana, senjata, fasilitas dan lain-lain dari berbagai negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS), dan negara-negara sekutu Arab mereka di Timur Tengah (Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Jordania dan Uni Emirat Arab, serta Turki.

Dalam perkembangan itu, sebuah kelompok memisahkan diri al-Qeada dan menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Kelompok ini kemudian berubah menjadi kekuatan bersenjata terbesar anti pemerintah Suriah.

Pasukan Suriah sempat terdesak hebat dan banyak kota berjatuhan ke tangan para ekstrimis, namun pasukan Suriah kemudian berhasil merebut kembali kota demi kota setelah dibantu milisi Hizbullah, sementara ISIS di berbagai kawasan yang masih mereka kuasai di bagian Timur Suriah lantas memilih mengerahkan kekuatannya di Irak utara hingga berhasil merebut banyak kawasan sambil menebar banyak kejahatan yang menggemparkan dunia dan bahkan mengancam kepentingan Barat di Irak.

Karena aksi-aksi ISIS sudah di luar kendali, AS dan para sekutunya lantas balik memusuhi ISIS dan menggalang aliansi internasional anti ISIS. Dalam aksinya, pasukan aliansi melancarkan serangan udara terhadap ISIS di Suriah tanpa ada persetujuan sama sekali dari pemerintah Damaskus ataupun mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Karena itu, sebagian kalangan mengatakan bahwa AS dan sekutunya berusaha mengendalikan perilaku ISIS tetapi sembari berusaha untuk tetap mencari-cari jalan bagi penggulingan Presiden Bashar al-Assad, terutama dengan menata kembali kekuatan kelompok-kelompok oposisi Suriah yang belakangan semakin kehilangan pamornya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL