Grand_Ayatollah_Ali_Khamenei,

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei

Teheran, LiputanIslam.com –   Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Grand Ayatullah Ali dalam pesannya kepada umat Islam dunia menyambut tibanya musim haji tahun 2016 menyatakan bahwa ibadah haji merupakan manifestasi kemuliaan dan spiritualitas umat Islam, sumber ketenangan dan keamanan manusia di depan ancaman para penindas, serta merupakan momentum untuk menggalang persatuan Islam dan gerakan “bara’ah minal musyrikin” atau keberlepasan diri dari kaum musyrikin.

Dalam pesan yang dirilis Senin (5/9/2016),  Khamenei menegaskan bahwa manasik haji merupakan wujud keagungan umat Islam di hadapan musuh, dan kebersihan mereka dari limbah korupsi dan praktik pelemahan umat manusia yang dilakukan oleh kaum penindas di muka bumi.

Khamenei dalam pesan ini juga melontarkan kecaman pedas terhadap rezim Arab Saudi karena telah  membuat jemaah Iran terhalangi niatnya untuk datang ke Baitullah hanya lantaran jemaah haji Iran juga menjadikan ibadah haji sebagai momentum penolakan terhadap kaum musyrik yang menguasai dunia.

“Para penguasa Saudi -yang tahun ini telah menghalangi jalan Allah dan Masjidil Haram serta menutup jalan bagi jemaah haji Iran ke suatu rumah tercintanya- adalah orang-orang sesat berwajah legam yang beranggapan bahwa sisa kekuasaan despotiknya adalah demi membela kaum arogan (mustakbirin) dunia, bersekutu dengan Zionisme dan Amerika Serikat, dan berusaha menyukseskan kehendak mereka, dan dalam rangka ini mereka tak segan-segan berkhianat,” tegasnya, sebagaimana dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA.

Menyinggung tragedi berdesakan di Mina dan jatuhnya crane di Masjid al-Haram hingga menjatuhkan ribuan korban meninggal jemaah haji pada tahun lalu, Khamenei menyatakan rezim Saudi sudah seharusnya bertanggungjawab. Khameneni juga menyebutkan kecurigaan adanya unsur kesengajaan mereka di balik tragedi ini.

“Penguasa Saudi selain tak sudi meminta maaf serta mengaku menyesal dan memperkarakan para pelaku insiden mengerikan itu, tanpa rasa malu juga enggan membentuk tim pencari fakta internasional yang terdiri atas negara-negara Islam,” tuturnya.

Lebih lanjut Khamenei menuding rezim Saudi sebagai penebar kekacauan yang telah menyuplai kelompok-kelompok ekstrimis takfiri dengan senjata sehingga berkobar perang saudara di Dunia Islam dan terjadi pertumpahan darah di Yaman, Irak, Suriah, Libya dan lain-lain.

“Mereka adalah para aktor politik yang berjabat tangan dengan Israel, mengabaikan penderitaan dan bencana rakyat Palestina, dan terus mengambangkan aksi penindasan dan pengkhianatan di Bahrain,” tegasnya.

Menurut Khamenei, penguasa Saudi tahun ini juga menerapkan pengawasan ekstra ketat terhadap jemaah haji dengan bantuan dinas-dinas intelijen AS dan Israel sehingga Baitullah menjadi tak aman lagi bagi semua orang.

Di bagian akhir Khamenei menyatakan bahwa meskipun tahun ini jemaah dari Iran tak dapat menunaikan manasik haji, namun sanubari mereka tetap bersama seluruh jemaah haji yang datang dari pelbagai penjuru dunia serta berdoa agar semuanya aman dari bahaya para thogut.

Tanggapan Arab Saudi

saudi nayef bin abdulaziz

Putera Mahkota dan Menteri Dalam Negeri Arab Saudi Nayef bin Abdulaziz al-Saud

Di pihak lain, menanggapi statemen Pemimpin Besar Iran ini Putera Mahkota dan Menteri Dalam Negeri Saudi Pangeran Nayef bin Abdul Aziz al-Saud di hari yang sama justru menganggap bara’ah minal musyrikin yang biasa dilakukan oleh jemaah haji Iran sebagai upaya untuk “menjadikan ibadah haji sebagai slogan-slogan yang menyalahi ajaran Islam dan mengacaukan keamanan haji dan para jemaah haji.”

“Kerajaan (Saudi) bagaimanapun tidak akan membiarkan terjadinya tindakan Iran maupun selain Iran yang menyalahi syiar-syiar haji, mengganggu keamanan, dan berpengaruh pada kehidupan dan keselamatan jemaah haji… Tindakan terhadap orang yang menyalahi niat haji dan mengusik keamanan jemaah haji akan tajam dan tegas,” katanya, seperti dikutip Rai al-Youm.

Dia menolak tudingan Iran bahwa Saudi tidak memperkenankan umat Islam Iran menunaikan ibadah haji tahun ini.

“Apa yang disebar luaskan oleh media Iran dan sebagian pejabat Iran tidaklah faktual dan obyektif. Mereka lebih mengetahui daripada orang lain bahwa Kerajaan Saudi telah memberikan segala fasilitas kepada jemaah haji Iran sebagaimana kepada para jamaah haji Baitullah al-Haram lainnya,” ungkapnya.

Dia memastikan bahwa pihak Iran sendirilah yang tidak menghendaki kedatangan jemaah hajinya karena bersikeras untuk menyelenggarakan aksi bara’ah minal musyrikin.

Umat Islam Iran meyakini aksi berlepas diri dari kaum musyrik sebagai bagian dari kewajiban dalam penunaian ibadah haji. Aksi ini biasa dilakukan dengan cara berpawai dan berdemonstrasi meneriakkan yel-yel anti AS dan Israel yang mereka anggap sebagai gembong kaum musyrikin yang menjadi sumber angkara murka di dunia masa kini. Saudi yang bersekutu dengan AS dan belakangan akan memulihkan hubungan dengan Israel keberatan terhadap aksi tersebut karena secara tidak langsung juga memojokkan Saudi sebagai sekutunya AS dan sahabat Israel.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL