Iran-saudiDamaskus , LiputanIslam.com – Pemerintah Arab Saudi dinilai mulai menunjukkan perubahan sikap dan kebijakannya terhadap Iran menyusul perubahan situasi Perang Suriah.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Pemuda Suriah, Maher Morhej, dalam wawancara dengan FNA di Damaskus mengatakan, “Transformasi besar di lapangan yang dicetak oleh angkatan bersenjata Suriah di banyak front pertempuran yang sebagian besar di antaranya merupakan perkembangan yang strategis -seperti pembersihan kawasan al-Qalamoun dan sejumlah kawasan di Aleppo dan Latakia- telah menyebabkan adanya interaksi baru tingkat regional terhadap krisis Suriah.”

Menurut Morhej, interaksi baru itu antara lain terlihat dari pertemuan antara Duta Besar Arab Saudi Abdulrahman Bin Groman Shahri dengan Mantan Presiden Iran Hasyemi Rafsanjani. “Pertemuan ini pada hakikatnya merupakan pertanda awal perubahan dan perkembangan baru serta upaya Arab Saudi untuk merevisi kebijakannya yang selama ini tidak menempatkan Iran pada posisi sentral,” papar Morhej.

Morhej menambahkan, “Arab Saudi selama ini mengerahkan segenap upayanya untuk memaksakan dominasinya terhadap negara-negara Arab regional, dan dengan cara ini Saudi berharap bisa menjadi pemain yang dominan dan didukung oleh Barat di kawasan.”

Menurut Morhej, Saudi tentu tidak lantas dengan mudah menyerah pada keadaan serta kebijakan Iran. Namun, lanjut dia, Saudi kini mengalami kondisi dalam negeri yang serba sulit setelah agenda-agenda di Suriah kandas dan milisi yang diandalkannya untuk menggulingkan pemerintah Suriah ternyata tidak dapat menyukseskan satupun di antara agenda tersebut.

“Karena itu,” ungkap Sekjen Partai Pemuda Suriah, “nyali Arab Saudi praktis jatuh, apalagi pengumuman mengenai penyelenggaraan pemilu oleh Presiden Suriah juga menjadi pukulan telak bagi agenda Riyadh di Suriah, padahal Saudi sudah terikat persyaratan dengan Amerika Serikat dan Inggris mengenai penggulingan pemerintah Suriah, itupun dalam jangka waktu tiga bulan.”

Di bagian akhir Maher Morhej menyatakan bahwa Saudi bukan hanya mengalami realitas kerontokan segala sesuatu yang digalangnya selama tiga tahun terakhir di Suriah, tetapi juga sedang menyongsong keadaan di mana Riyadh akan kehilangan kedudukan dan posisinya strategisnya di depan menguatnya pengaruh dan posisi Republik Islam Iran. (mm/fni)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL