rusuh mesirKairo, LiputanIslam.com – Unjuk rasa di Mesir kembali menjatuhkan korban jiwa dan luka. Tiga pengunjuk rasa dan dua tentara Mesir dipastikan tewas, dan belasan lainnya luka-luka.

Laporan kantor berita Turki Anadolu yang dikutip Middle East Eye (MEE) menyebutkan bahwa sekitar 220 orang ditangkap, sedangkan Kementerian Dalam Negeri Mesir hanya menyebutkan 150 orang dalam keterangannya yang disampaikan via jejaring sosial Facebook.

Unjuk rasa di Mesir diserukan Aliansi Nasional pro-Morsi dan Front Salafis Mesir, dan dimulai sesudah shalat Jumat. Front Salafi Mesir menyerukan supaya para pengunjuk rasa beraksi sambil mengangkat kitab suci al-Quran, hal yang kemudian ditanggapi oleh Universitas al-Azhar sebagai aksi yang sama persis dengan apa yang dilakukan oleh kaum takfiri Khawarij pada periode awal sejarah Islam. (Baca juga: Al-Azhar: Salafi/Wahhabi Bertindak Ala Kaum Khawarij)

Ribuan massa menggelar pawai di Kairo dan Alexandria. Namun, situasi relatif lebih terkendali karena pasukan keamanan sudah dikerahkan di banyak tempat, terutama di bundaran-bundaran, dan banyak jalan diblokir.

Kerusuhan terjadi di kawasan Matariya, Kairo, menyebabkan tiga pengunjuk rasa tewas.

Aliansi Nasional Pembela Legitimasi yang merupakan kelompok utama pendukung presiden terguling Mohamed Morsi menyatakan bahwa salah satu korban adalah orang yang terlibat aksi unjuk rasa pro-Morsi. Di pihak lain, kepala keamanan Kairo Ali al-Demerdash mengatakan bahwa korban itu tewas akibat tembakan yang berasal dari massa pendukung kelompok Ikhwanul Muslimin ketika meninggalkan sebuah masjid, sementara polisi hanya “menunjukkan sikap menahan diri dalam memperlakukan para pengunjuk rasa.”

Dua orang petugas keamanan juga terbunuh dalam dua insiden serangan terpisah di Kairo dan di bagian utara provinsi Qaliobiya.
Menurut pihak keamanan, kedua serangan itu dilakukan oleh orang tak dikenal yang tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah petugas. Sejumlah tentara juga luka-luka di Qalioubiya.

Beberapa lama kemudian, sebuah bom meledak dan menerjang kendaraan militer di Semenanjung Sinai, melukai tujuh orang.

Beberapa ledakan lain juga dilaporkan terjadi di berbagai kawasan Mesir. Enam orang cidera akibat ledakan yang di provinsi Sharqiya di kawasan Delta Nil.

Mesir kerap dilanda demonstrasi berdarah, terutama di hari Jumat, sejak presiden Morsi terguling dan dikudeta oleh militer pada 3 Juli 2013. Selain itu, polisi dan tentara Mesir juga kerap menjadi sasaran serangan kaum militan bersenjata, terutama di Semenanjung Sinai. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL