Syria's President Bashar al-Assad meets Senator John Kerry in Damascus

Pertemuan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus dengan John Kerry saat masih menjabat senator AS pada tahun 2009.

Washington, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry mengakui bahwa pada akhirnya pemerintah Washington mau tidak mau harus berunding dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad mengenai krisis Suriah.

Sebagaimana dilaporkan oleh berbagai media dunia, termasuk BBC, Guardian dan al-Jazeera, Minggu (15/3/2015), pengakuan yang terdengar canggung dari seorang pejabat tinggi AS itu dinyatakan Keery dalam wawancara dengan CBS berkenaan dengan empat tahun konflik Suriah.

Mengenai konflik ini, Washington selama ini selalu berkoar bahwa Presiden Assad harus terguling. Namun belakangan ini Gedung Putih berganti nada dan melunak terhadap Damaskus setelah kekhawatiran terhadap serangan kelompok-kelompok teroris merebak di tengah masyarakat Barat, terutama AS. AS khawatir ancaman para ekstrimis semakin membengkak jika mereka sampai berkuasa di Suriah.

“Pada akhirnya kita harus bernegosiasi… Semua orang sepakat tidak ada solusi militer. Yang ada hanya solusi politik,’ katanya.
Menurutnya, AS dan beberapa negara lain telah menemukan beberapa jalan untuk menghidupkan kembali proses diplomatik untuk menyudahi konflik Suriah.

“Kami bersikeras supaya dia (Assad) datang dan melakukannya, dan mungkin perlu peningkatan berbagai tekanan terhadapnya supaya dia bersedia melakukannya,” ujar kerry.

Sementara itu, harian al-Hayat menyebutkan bahwa memasuki tahun keempat krisis Suriah, “semua harapan telah sirna, dan negara-negara Barat sudah tidak lagi berusaha menyingkirkan Presiden Suriah.”

Koran terbitan Arab Saudi ini melaporkan bahwa apa yang menjadi pusat perhatian Barat sekarang ialah penumpasan kelompok teroris ISIS.

Al-Hayat mengutip keterangan para pejabat senior Barat bahwa Parispun sudah mengabaikan target penggulingan Bashar al-Assad. Menurut mereka, sejak dimulainya serangan udara pasukan koalisi internasional Anti ISIS dinas rahasia AS bahkan telah menjalin “kontak non-permusuhan” dengan badan intelijen Suriah, dan negara-negara Baratpun juga dapat menangkap makna pernyataan Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB Urusan Suriah, Staffan de Mistura, bahwa “al-Assad adalah bagian dari jalan untuk menghentikan kekerasan di Suriah”.

Al-Hayat menyebutkan, “Pada selang waktu antara tahun 2012 hingga 2014 telah terjadi berbagai persoalan krusial yang beberapa di antaranya ialah campurangan tangan Hizbullah untuk mencegah tergulingnya pemerintah Damaskus, transaksi senjata kimia di akhir tahun 2013, mundurnya Presiden AS Barack Obama dari ancaman militer, kemunculan kelompok teroris ISIS dan deklarasi kekhalifahan di akhir bulan Juni 2014 serta masuknya jet-jet tempur pasukan koalisi anti ISIS.”

Menurut al-Hayat, ISIS telah kehilangan kontrolnya atas dua pertiga wilayah Suriah, kelompok teroris Front al-Nusrapun meraih kendali Rif Idlib di bagian timur laut Suriah pasca kehancuran kelompok “Front Revolusi Suriah” dan sampai sekarang pengaruh al-Nusra masih berlanjut di bagian utara Rif Aleppo, sementara di “segi tiga selatan” di Rif Daraa, Damaskus dan Quneitra terjadi pertempuran dengan partisipasi Iran dan Hizbullah.

Al-Hayat juga menyebutkan bahwa kondisi kalangan Kurdi Suriahpun sejak tahun tahun sudah berubah. Mereka juga mendapat dukungan dari pasukan koalisi. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*