al-abadi-iraqBaghdad, LiputanIslam.com – Dukungan dari dalam dan luar negeri kepada Perdana Menteri baru Irak Heider al-Abadi terus mengalir. Kali ini, dukungan itu datang bahkan dari Partai Dakwah Islam yang merupakan partai Nouri al-Maliki sendiri yang masih bersikeras untuk bertahan pada posisi perdana menteri.

Reuters melaporkan bahwa Partai Dakwah Irak Rabu kemarin (13/8) menyerukan kepada semua fraksi di parlemen Irak supaya bekerjasama dengan Abadi untuk membentuk kabinet baru Irak secepat mungkin.

Nouri al-Maliki sendiri masih menolak menyingkir dari jabatannya. Menurut laporan AFP, Rabu kemarin dia menyatakan akan tetap bertahan pada jabatannya sampai ada keputusan dari Mahkamah Federal Irak, namun sebagian pengamat menyatakan bahwa apapun keputusan mahkamah itu Maliki tetap sulit bertahan karena sudah kehilangan dukungan dari sebagian anggota kubunya sendiri.

Abadi belakangan merilis statemen berisikan imbauan kepada semua kelompok politik Irak supaya menyatukan persepsi untuk mengatasi problematika hukum, politik dan ekonomi Irak.

“Irak kini sedang menghadapi banyak tantangan yang mengancam persatuan dan tatanan sosial serta semua komponen yang membentuknya. Karena itu semua harus bersatu melawan bahaya terorisme, dan ini merupakan masalah utama bagi pemerintah dan semua komponen masyarakat Irak,” ujarnya.

Dia juga menyerukan kepada tentara, polisi, relawan dan kelompok-kelompok adat supaya bangkit membela Irak di depan terorisme.
Sebelumnya, berbagai dukungan dan ucapan selamat atas penunjukan Abadi sebagai perdana menteri baru Irak mengalir dari berbagai negara, termasuk AS, negara-negara Eropa, Mesir, Arab Saudi dan Iran.

Kubu Gerakan Nasional untuk Reformasi dan Pembangunan Irak Senin (11/8) menyatakan bahwa sebanyak 127 anggota parlemen Irak dari Aliansi Nasional Irak (INA) resmi mengajukan nama Heider al-Abadi sebagai perdana menteri Irak baru menggantikan Nouri al-Maliki. Dengan demikian, Abadi mulai ditugaskan membentuk pemerintahan baru Irak.

Haider al-Abadi adalah politisi Syiah Irak kelahiran Baghdad, ibu kota Irak, tahun 1952. Tokoh yang cukup dekat dengan al-Maliki itu pernah terasing di Inggris dan kembali ke tanah airnya setelah rezim diktator Irak, Saddam Hussein, terguling pada tahun 2003. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL