NewYork, LiputanIslam.com –  Perwakilan Arab Saudi dan Suriah terlibat aksi saling tuding dalam sidang Majelis Umum PBB yang digelar untuk membahas perkembangan situasi krisis Suriah, Rabu (17/10/2018).

Dalam sidang di markas PBB di New York, Amerika Serikat (AS), Wakil tetap Suriah di PBB Bashar Jaafari mengecam Saudi dengan mengangkat kasus penghilangan dan pembunuhan jurnalis dan kritikus Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu.

“Saudi yang terlibat dalam kasus hilangnya jurnalis Khashoggi tak patut berpidato kepada majelis ini,” kecam Jaafari.

Setelah Jaafari selesai berbicara, Wakil Tetap Saudi untuk PBB Abdallah Yahya al-Mouallimi meminta untuk berbicara, dan ketika dia mulai berbicara Jaafri segera beranjak meninggalkan ruang sidang.

Al-Mouallimi balik mengecam Suriah dengan balik menuduh Damaskus terlibat dalam penghilangan ribuan wartawan.

“Rekan ini berbicara mengenai hilangnya satu orang jurnalis, sementara rezim Suriah sendiri terlibat dalam penghilangan ribuan wartawan di penjara-penjaranya,” tuding Al-Mouallimi.

Jaafari sendiri dalam pidatonya juga mengecam pedas pasukan koalisi internasional pimpinan AS dan menyebutnya telah melakukan kejahatan baru terhadap bangsa Suriah dengan membom kota Hajin, provinsi Deir Ezzor, Suriah timur dengan bom fosfor putih yang dilarang oleh masyarakat internasional hingga jatuh puluhan korban jiwa dan luka.

“Koalisi internasional memerangi segala sesuatu kecuali teroris, dan perbuatannya membuktikan bahwa tujuannya sejalan dengan tujuan kelompok-kelompok teroris dalam menebar kekacauan, pembunuhan, kehancuran, dan terus menyokong kelompok teroris ISIS,” tegasnya.

Dia kemudian mendesak Dewan Keamanan PBB segera menyelidiki kejahatan koalisi internasional dan bergerak untuk mencegah terulangnya keberingasan pasukan AS dan pasukan asing lainnya yang bercokol di Suriah secara ilegal.

Jaafari menegaskan bahwa negara-negara yang mensponsori teroris justru menguasai mimbar-mimbar PBB, sementara Pasukan Arab Suriah (SAA) terus bergerak maju memberantas kelompok-kelompok teroris. Menurutnya, negara-negara ini bertujuan melancarkan tekanan politik terhadap pemerintah Suriah dan menghadang gerak maju operasi militer SAA tersebut.

Jaafari mengingatkan bahwa proses stabilisasi Suriah akan berujung pada penarikan semua pasukan asing AS, Inggris, Perancis, Israel, Turki dan lain-lain dari seluruh wilayah Suriah karena status mereka adalah pasukan pendudukan. (mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*