serangan udara rusia di suriahDamaskus, LiputanIslam.com –   Jet-jet tempur Rusia kembali menggempur posisi kelompok-kelompok teroris di Idlib dan Hamah, Suriah, Kamis (1/10). Demikian dilaporkan Alalam sembari mengutip pernyataan sumber militer Suriah bahwa dukungan militer Rusia akan menghasilkan perubahan besar di lapangan.

Sebagaimana pernah diberitakan, Kementerian Pertahanan Rusia sehari sebelumnya mengumumkan bahwa jet-jet tempur Rusia telah memulai serangan udara di Suriah hingga menghancurkan peralatan tempur dan gudang-gudang senjata kelompok teroris takfiri ISIS di kota sekitar kota Homs, Hamah dan Latakia. (Baca: Jet Tempur Rusia Mulai Beraksi di Suriah)

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, seperti dilaporkan Sky News, menyatakan negaranya tidak bermaksud bergabung dengan koalisi anti ISIS pimpinan AS, tapi jika ada permintaan dari pemerintah Irak maka Rusia siap memperluas serangannya dari Suriah ke wilayah Irak.

Pemerintah Iran menyambut gembira operasi pasukan udara Rusia di Suriah.

“Perang sejati melawan fenomena teroris sebagai ancaman kolektif bagi keamanan dan perdamaian regional dan global memang sudah seharusnya,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Marziyeh Afkham.

Dia menambahkan bahwa karena ada permintaan resmi dari pemerintah Suriah kepada Rusia maka Iran memandang operasi militer Rusia anti kawanan teroris bersenjata di Suriah sebagai tindakan dalam rangka perang melawan teroris sekaligus dalam rangka penyelesaian krisis yang muncul dari terorisme di kawasan Timteng.

Di pihak lain, Arab Saudi tak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap keterlibatan Rusia dalam operasi penumpasan kawanan teroris yang selama ini memang terindikasi mendapat dukungan serta suplai dana dan senjata dari Saudi, Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Barat lainnya.

Lembaga pemberitaan Rusia Rossiya Segodnya mengutip pernyataan Duta Besar Saudi di PBB, Abdullah Al-Mouallimi, bahwa Riyadh merasa prihatin dan risau terhadap tindakan dan operasi militer Rusia di Suriah. Dia meminta Rusia menghentikan operasi pemboman markas-markas dan posisi-posisi teroris di Suriah.

Dia menyebut Rusia sebagai negara munafik karena menyerang ISIS tapi di saat yang sama Rusia justru membantu “teroris” lainnya,yaitu Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

“Negara-negara yang baru saja tiba di Suriah tidak bisa mengklaim bahwa mereka tengah melawan ISIS, sementara di sisi lain mendukung rezim brutal Bashar al-Assad dan sekutu terorisnya seperti Hizbullah,” katanya, sebagai dilansir Alarabiya.

Sebelumnya, AS dan Inggris juga mengungkapkan kecemasan masing-masing terhadap operasi militer Rusia di Suriah serta menyebutnya sebagai tindakan berbahaya.

Namun demikian, Rusia menegaskan pihaknya akan terus melancarkan operasi penumpasan teroris berdasarkan  permintaan dari pemerintahan yang sah di Suriah. Moskow bahkan juga mencibir koalisi anti ISIS pimpinan AS dengan menyatakan bahwa meskipun sudah satu tahun dibentuk koalisi ternyata tak menghasilkan pengaruh apa-apa, dan yang terjadi di lapangan justru keberhasilan ISIS merebut beberapa kawasan baru di Irak dan Suriah.

Menurut laporan yang beredar, pasukan udara Rusia dalam gempurannya terhadap ISIS mengerahkan sekira 60 unit jet pembom Sukhoi 24, 25 dan 34. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL