masoud jazayeri2Teheran, LiputanIslam.com – Jenderal Iran Masoud Jazayeri menyindir Saudi dan negara-negara sekutunya dengan kata-kata pedas. Dia menyebut mereka sebagai negara reaksioner dan pecundang yang menjadi bahan tertawaan dunia.

Sebagaimana dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA, Brigjen Jazayeri yang menjabat sebagai wakil kepala staf angkatan bersenjata Iran mengatakan, “Omong kosong negara-negara reaksioner di kawasan tidak terlalu berharga untuk ditanggapi. Mereka sebaiknya tidak usah menebar omong kosong yang menjadi bahan tertawaan dunia .”

Dia menambahkan, “Negara-negara pecundang yang dalam sejarah kontemporernya tercatat lari tunggang langgang mendengar letusan peluru pertama sebaiknya tidak mengumbar pernyataan yang semakin mengundang tertawaan khalayak dunia.”

Hal ini dia ungkapkan menyusul diangkatnya klaim Uni Emirat Arab atas tiga pulau di Selat Hormuz, Teluk Persia, yaitu Tunb Besar, Tunb Kecil dan Abu Musa, dalam komunike akhir Konferensi Tingkat Tinggi ke-26 Liga Arab yang telah berlangsung di kota Sharm al-Sheikh, Mesir.

Isu ini juga diangkat di tengah kecamuk serangan udara pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi terhadap Yaman sehingga terkesan mencoba menggertak Iran.

Jazeyeri menegaskan bahwa membela kedaulatan dan nilai-nilai revolusi Islam Iran sudah menjadi tanggungjawab yang tak terpisahkan dari jatidiri angkatan bersenjata Iran.

“Angkatan bersenjata konsisten pada garis-garis merah yang ditetapkan oleh pemimpin besar revolusi,” katanya.

Mengenai serangan koalisi Arab terhadap Yaman dia memastikan rakyat negara ini tidak akan kalah meskipun dikeroyok sedemikian rupa.

“Kemenangan pasti menjadi milik rakyat kawasan, dan musuh-musuh rakyat pasti akan kalah,” ungkapnya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Marzieh Afkham di hari yang sama juga menegaskan bahwa tiga pulau tersebut tak dapat diusik oleh siapapun.

“Pulau-pulau itu adalah bagian tak terpisahkan dari teritori Iran,” tegasnya, sebagaimana dikutip laman berita PressTV.

Dia juga mengingatkan, klaim-klaim repetitif yang menggugat kedaulatan Iran atas tiga pulau itu tidak memiliki pengaruh apapun terhadap “realitas hukum dan sejarah yang ada.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*