Abbas Zaki, Mahmoud Abbas

Ahmad Zaki bersama Presiden Palestina Mahmoud Abbas

Bethlehem, LiputanIslam.com – Tentara Israel menangkap Abbas Zaki salah satu petinggi gerakan Fatah Palestina di sebuah pos militer di utara Beitlehem, Tepi Barat, Sabtu (3/1/2015).

Menurut kantor berita Palestina Ma’an, tentara Israel yang disebar di pos Container di timur laut Bethlehem menghentikan mobil anggota komite pusat Fatah tersebut.

Ketika itu Zaki mengatakan kepada Ma’an via telefon bahwa tentara Israel telah menghentikan perjalanannya bersama dua pengawalnya, kemudian  mengambil kartu identitasnya tanpa menjelaskan alasan penyetopan.

Zaki tampaknya segera menghubungi Ma’an via telefon. Dia mengaku sedang dicegat tentara Israel. Menurutnya, tentara Israel juga terlihat menggunakan telefon seluler yang kemungkinan adalah untuk mencari tahu alasan penangkapan.

“Tampaknya memang ada perintah dari Israel supaya saya ditangkap,” ungkap Zaki.

Dia kemudian mengatakan bahwa tentara Israel berusaha mencegahnya menggunakan telefon genggam. Dia menambahkan bahwa beberapa warga Palestina yang ada di pos pemeriksaan berusaha membelanya dan mencegah penangkapan terhadapnya.

Tak lama kemudian Ma’an kehilangan kontak dengan Zaki.

Pos Container yang terletak di timur laut Bethlehen dekat tebing Wadi Nar di timur desa Sawahira al-Sharqiya merupakan satu-satunya jalan besar bagi orang-orang Palestina yang menghubungkan Hebron dan Bethlehem di kawasan selatan Tepi Barat dengan kawasan tengah dan utara Tepi Barat.

Juru bicara Fatah, Ahmad Assaf, mengatakan bahwa aksi penangkapan itu sangat berbahaya dan bertujuan menekan para pemimpin Palestina supaya mengubah pendiriannya. Dia menambahkan bahwa para pemimpin Palestina tetap bertekad menempuh langkah-langkah yang diperlukan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) demi mengakhiri pendudukan kaum Zionis Israel atas Palestina.

“Tindakan Zionis sedemikian rupa hanya akan menambah tekad para pemimpin Fatah untuk memusnahkan pendudukan dan mendirikan negara Palestina merdeka dengan al-Quds (Baitul Maqdis/Jerusalem) sebagai ibu kotanya,” ungkap Assaf.

Dewan Keamanan PBB Selasa (30/12/2014) menolak draf resolusi yang menuntut Israel supaya mengakhiri pendudukannya atas wilayah Palestina tahun 1967 paling lambat tiga tahun ke depan, akibat adanya penentangan dari Amerika Serikat (AS).

Draf itu didukung hanya oleh delapan negara, ditentang oleh dua negara yaitu AS dan Australia, sementara lima negara Inggris, Lithuania, Nigeria, Korea Selatan dan Rwanda memilih abstein.

Pengesahan draf resolusi ini oleh DK PBB memerlukan persetujuan dari minimal sembilan negara anggota dan tidak mendapat veto dari lima negara anggota tetap, termasuk AS, namun ternyata ditentang Washington. Inggrispun sebagai salah satu negara pemegang hak veto juga tidak memberikan suara setuju.

Sementara itu, perunding senior Palestina Saeb Erekat menyatakan bahwa pada bulan Maret mendatang Palestina akan menjadi anggota Dewan Pengadilan Internasional Den Haag. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*