TelAviv, LiputanIslam.com –  Menhan Israel Avigdor Lieberman menyatakan tidak tertutup kemungkinan negara Zionis penjajah Palestina ini menjalin hubungan dengan Suriah meskipun kemungkinan ini sekarang “masih jauh” untuk diwujudkan.

Hal ini dia katakan saat meninjau kawasan pendudukan Golan, Selasa (10/7/2018), dan ditanya wartawan mengenai kemungkinan pembukaan lagi pintu perbatasan Quneitra sesuai kesepakatan gencatan senjata Israel-Suriah serta kemungkinan dijalinnya “sebentuk hubungan” antara keduanya.

“Saya kira kita masih jauh dari realisasi hal ini, namun kita tidak mengecilkan kemungkinan segala sesuatu,” ujarnya.

Di sisi lain dia menegaskan penolakan kerasnya terhadap pergerakan militer Iran dan Hizbullah di Suriah.

“Kami tidak menerima segala bentuk operasi penyebaran pasukan dan pemindahan senjata yang dilakukan Hizbullah atau Iran di dalam wilayah Suriah, atau upaya apapun untuk mendirikan infrastruktur teroris di bawah naungan rezim Suriah. Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras terhadap segala bentuk infrastruktur teroris yang kami lihat atau tentukan di kawasan ini,” tegasnya.

Dia juga mengancam dengan menyatakan bahwa nyawa tentara Suriah yang masuk ke zona penyangga “terancam bahaya”, namun mengakui bahwa Presiden Suriah Bashar Assad akan dapat merebut kembali sisi Suriah wilayah Golan.

Suriah pernah melakukan perundingan langsung dengan Israel di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2000 dan perundingan tak langsung dengan mediasi Turki pada tahun 2008 mengenai kemungkinan penyerahan seluruh atau sebagian kawasan Golan yang diduduki Israel pada tahun 1967 kepada Suriah, tapi kedua pihak gagal mencapai kesepakatan apapun.

Ketika Suriah mulai diterjang gelombang pemberontakan dan terorisme pada tahun 2011 para pejabat Israel, termasuk Mantan Menhan Ehud Barak, menduga dan berharap pemerintahan Assad terguling dalam tempo beberapa minggu.

Belakangan ini tentara Suriah dalam operasi militernya berhasil bergerak maju ke bagian barat daya negara ini dan mendekati kawasan Quneitra yang dikuasai oleh pemberontak dan berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan. Israel lantas cemas terhadap upaya Assad menyebar pasukannya di sana dan mengabaikan perjanjian gencatan senjata Israel-Suriah tahun 1974 yang melarang pengerahan militer kedua pihak untuk penyelesaian Golan. (mm/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*