roket palestinaBethlehem, LiputanIslam.com – Media Israel memberitakan dua roket telah menghantam wilayah selatan Israel beberapa jam setelah pesawat tanpa awak (drone) rezim Zionis ini menyerang kawasan utara Jalur Gaza, Rabu (23/4/2014).

Harian Haaretz melaporkan bahwa kedua roket itu meledak di tempat terbuka sehingga tidak menimbulkan korban dan kerusakan. Roket pertama meledak di kawasan Hof Ashkelon dekat pagar perbatasan Gaza, dan beberapa menit kemudian meledak pula roket kedua di sebuah lokasi dekat Sderot. Haaretz juga menyebutkan adanya satu roket lain yang melesak dan memancing pekikan sirine, namun tidak terdengar bunyi ledakan.

Belum ada pernyataan dari pihak Palestina mengenai serangan roket tersebut. Namun banyak dugaan bahwa serangan itu merupakan reaksi atas serangan drone Israel ke sebuah lokasi di Beit Lahia di utara Jalur Gaza yang menyebabkan 12 warga Palestina menderita luka-luka.

Juru Biacara Departemen Kesehatan palestina Ashraf al-Qidra menyatakan bahwa semua korban cidera itu adalah warga sipil, beberapa di antaranya anak kecil berusia antara tujuh hingga 12 tahun.

Portal berita Palestina al-Youm melaporkan bahwa satu komandan Brigade al-Quds, sayap militer faksi Jihad Islam Palestina, selamat dalam serangan tersebut.

Militer Israel menyebut serangan itu sebagai operasi kontra-terorisme, namun tidak menyebut siapa yang menjadi target serangan. Media Israel melaporkan bahwa serangan itu ditujukan kepada pejuang Palestina yang mengendara motor di wilayah utara Gaza, namun sasaran itu lolos dari sergapan maut.

Serangan Israel tersebut terjadi tak lama setelah dua faksi besar Palestina, Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Jalur Gaza menjalin kesepakatan untuk menggalang rekonsiliasi nasional dan membangun pemerintahan persatuan nasional Palestina.

Perjanjian ini tidak hanya mengejutkan Israel, tapi juga mengecewakan pemerintah Amerika Serikat (AS). “Keadaan ini menyulitkan, dan kami tentu kecewa terhadap pengumuman (kesepakatan) itu,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jen Psaki, di Washington, seperti dikutip PressTV.

Dia menambahkan, “Hal itu akan sangat merumitkan upaya kami, dan bahkan bukan hanya upaya kami saja, melainkan juga upaya pihak-pihak lebih berkepentingan untuk melanjutkan negosiasi.” (mm/haaretz/maan/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL