nuklir mesirTel Aviv, LiputanIslam.com – Banyak media Israel yang menyebutkan pujian para pejabat negara Zionis ini terhadap Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. Namun demikian, ada pula media rezim penjajah Palestina ini yang melaporkan meningkatnya kegelisahan Tel Aviv terhadap program nuklir Mesir.

“Ada banyak spekulasi mengenai status program nuklir Mesir. Krisis energi dinyatakan bukan satu-satunya alasan untuk program nuklir Mesir sehingga ada peringatan mengenai kemungkinan masuknya Kairo dalam persaingan senjata nuklir,” tulis situs Israel Defence (ID) dalam sebuah laporannya yang ditulis oleh Shaul Shai, sebagaimana dikutip lembaga pemberitaan Iran, Fars News Agency (FNA), Rabu (8/10).

Menurut FNA, Israel sendiri memiliki 100 hingga 300 hulu ledak nuklir dan sampai sekarang menolak meneken Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun demikian negara ilegal ini malah mengecam Mesir karena Kairo tidak menandatangani Protokol Tambahan NPT.

ID menilai Mesir sebagai negara yang merasa sebagai pemimpin Arab sehingga program nuklir Negeri Piramida ini bisa menjadi alat tawar politik di dalam dan di luar negeri.

Menyinggung program nuklir Iran, ID menilainya bisa jadi akan memicu kompetisi nuklir antarnegara di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Mesir, Jordania, Turki dan negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Rezim Zionis dengan dinas rahasianya, Mossad, yang disebutkan oleh harian The Indepenpent, Inggris, sebagai “mesin pembunuh tak kenal belas kasih” adalah aktor di balik keterbunuhan para ilmuwan nuklir Mesir dalam beberapa dekade terakhir. Samira Moussa yang terbunuh di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1952 dan Samir Naguib yang juga terbunuh di negara yang sama pada tahun 1967 termasuk ilmuwan nuklir Mesir yang dihabisi oleh para agen Zionis Israel.

Pada tahun 1980 agen Israel juga membunuh Yahya al-Mashhad , salah satu ilmuwan nuklir terkemuka Mesir. Pria yang ikut terlibat dalam proyek nuklir Irak itu terbunuh di Hotel Le Meridien, Paris. Otoritas Perancis sendiri mencurigai Mossad berada di balik aksi pembunuhan tersebut. Di tahun yang sama, agen Mossad juga menghabisi nyawa ilmuwan antariksa Mesir Saed al-Sayed Badir.

Tanpa menyinggung kasus-kasus pembunuhan itu, ID mengklaim Mesir pada dekade 1960-an berusaha meraih senjata nuklir namun gagal akibat faktor-faktor politik dan ekonomi.

ID kemudian mengingatkan Presiden AS Barack Obama bahwa jika aktivitas nuklir Iran gagal dihentikan maka aktivitas itu akan menjelma menjadi bahaya besar di Timur Tengah serta memicu negara-negara lain untuk meraih bom nuklir.

Shaul Shai mengklaim bahwa proyek nuklir Mesir adalah yang terbesar di Timur Tengah setelah Iran dan Israel. Menurutnya, sejak bulan Mei lalu pemerintah Mesir mulai memperkuat infrastruktur nuklirnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL