tentara israel01TelAviv, LiputanIslam.com – Tak seperti biasanya, kali ini militer Israel secara resmi menepis laporan surat kabar Lebanon Daily Star (DS) bahwa tentara Israel menerapkan suatu cara yang kontroversial dalam upayanya mencegah keterculikan anggotanya, setelah bulan lalu milisi Hizbullah melancarkan serangan balasan telak terhadap konvoi kendaraan militer Israel di kawasan pertanian Sheeba, Lebanon Selatan.

DS sebelumnya melaporkan bahwa militer Israel menerapkan “protokol hannibal”, yaitu suatu cara yang demi mencegah keterculikan anggotanya militer Israel tak segan-segan melakukan tindakan apapun, termasuk membunuh tentara Israel sendiri yang tertawan bersama pihak lawan yang menawannya. Prosedur demikian diterapkan Israel setelah pada 28 Januari lalu Hizbullah meroket konvoi mobil militer Israel hingga menewaskan dan melukai beberapa tentara Zionis.

Dalam peristiwa itu tentara Israel yang panik segera berusaha membalas dan menggempur beberapa lokasi yang diduga terdapat milisi Hizbullah, namun ternyata justru menewaskan anggota Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) asal Spanyol.

Koran Israel Haaretz menyebutkan bahwa berdasarkan protokol atau prosedur hannibal, militer Israel saat itu selayaknya menerapkan tindakan sekeras mungkin demi mencegah jatuhnya anggota militer Israel ke tangan penyerang, walaupun dapat menyebabkan kematian pihak yang “tersandera”.

Sebagaimana dilaporkan Rai al-Youm Selasa (24/2/2015), juru bicara resmi militer Israel dalam pernyataannya kepada TV Israel Channel 10 membantah laporan DS. Dia mengatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak menerapkan protoko Hanninal dalam peristiwa di Sheeba tersebut.

DS menyebutkan bahwa saat itu tentara Israel tidak seperti biasanya dalam upayanya melancarkan serangan balasan. Saat itu pasukan Israel menggempur lokasi-lokasi yang diduga terdapat “regu-regu penyandera” yang berusaha kembali ke Lebanon dengan membawa tawanan tentara Israel.

DS mengutip pengakuan seorang perwira Israel bahwa pasukan Israel telah diinstruksikan supaya menerapkan prosedur hannibal.

Prosedur ini mulai mengemuka pada tahun 1986, yaitu setelah tiga anggota Brigade Givati Israel tertawan di Lebanon. Saat itu diketahui bahwa rekan-rekan tentara Israel yang tertawan membiarkan mobil yang membawa para tawanan berlalu begitu saja tanpa melepaskan tembakan. Prosedur hannibal diberlakukan demi mencegah terulangnya kejadian tersebut.

Namun demikian, prosedur itu segera menimbulkan kontroversi karena banyak yang menganggapnya sebagai tindakan yang mengesankan bahwa tentara Israel lebih baik terbunuh daripada “tersandera”. Hal ini lantas mendorong Israel untuk mendefenisi prosedur itu secara lebih ketat dengan cukup menegaskan keharusan mencegah ketersanderaan tentara Israel. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL