London, LiputanIslam.com –  Surat kabar The Sunday Times yang berbasis di Inggris melaporkan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah “meninggalkan 1000 anak dengan 100 logat.”

Dalam laporan yang dibuat oleh korespondennya bidang Timteng, Louise Callaghan, The Sunday Times, Ahad (28/10/2018), menyebutkan bahwa di sebuah bukit kecil di sebuah dataran di bagian timur laut Suriah terdapat kamp Roj yang digunakan untuk menampung orang-orang terlantar.

Di situ terdapat tenda-tenda putih di atas tanah merahnya yang sepintas terlihat serupa dengan puluhan pemukiman pengungsi lain di wilayah tersebut.

Namun, di balik pagar rantai dan di bawah pengawasan petugas perempuan milisi Kurdi ternyata ada beberapa orang yang sangat berbeda dengan para pengungsi lain. Mereka adalah wanita dan anak-anak dari “kekhalifahan”, yakni mereka adalah kaum perempuan ISIS yang datang dari pelbagai penjuru dunia untuk hidup di bawah pemerintahan ISIS.

Para pejabat Kurdi menyatakan di wilayahnya itu terdapat 500 perempuan dan 1200 anak yang berasal dari 44 negara. Mereka ditampung di tiga kamp di bagian timur laut Suriah.

Menurut Callaghan, sebagian negara asal mereka menolak kepulangan mereka, sementara pihak Kurdi juga tidak menghendaki kebertahanan mereka.

Callaghan menyebutkan bahwa para peninjau kamp itu dapat melihat perbauran yang unik kaum terlantar itu akibat keberadaan mereka sebelumnya di bawah pemerintahan ISIS. Ada anak kecil berbahasa Inggris mengenakan kostum Spiderman. Ayahnya diduga berasal dari AS.

Terlihat pula seorang perempuan asal Azerbaijan yang bergabung dengan ISIS pada usia 13 tahun, namun sekarang sudah dua kali menikah dengan dua anggota kelompok teroris ini, dan dua kali menjanda. Juga ada seorang perempuan Belanda bersama dua orang anaknya yang berkulit putih kemerahan. Dan masih banyak lagi.

Uniknya lagi, di kamp itu terdengar percakapan dengan berbagai bahasa, termasuk Arab, Inggris, Belanda, Swedia, dengan ratusan aksen.

Callaghan melanjutkan bahwa meskipun mereka tidak dipenjara tapi selalu berada dalam pengawasan dan dibatasi secara ketat dalam menggunakan internet dan berkomunikasi dengan keluarga mereka. Dan apapun alasan mereka bergabung dengan ISIS, mereka mengetahui bahwa apa yang mereka ceritakan di kamp itu kepada para pejabat bisa jadi akan menentukan masa depan mereka. (mm/thesundaytimes)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*