Damaskus, LiputanIslam.com –  Kawanan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali memamerkan kebejatan dan vandalismenya kepada dunia. Mereka menghancurkan  peninggalan sejarah berupa monumen Tetrapylon dan bagian dari gedung teater Romawi di kota kuno Palmyra, Suriah.

Vandalisme ini menjadi kasus terbaru serangan ISIS terhadap peninggalan sejarah Suriah, dan merupakan mimpi buruk lagi bagi negara pimpinan Presiden Bashar al-Assad ini.

“Ini merupakan film horror, dan kita akan melihatnya lebih banyak lagi. Selagi masih dibawah kontrol mereka, kota ini akan tetap menjadi sandera,” ungkap Maamoun Abdul Karim, pejabat Suriah yang menangani peninggalan kuno, Jumat (20/1/2017).

“Ini merupakan skandal. Palmyra diduduki tapi tak ada kemarahan dari masyarakat internasional. Kami berusaha melindungi peradaban, ini di luar pertimbangan politik, diperlukan solidaritas internasional,” lanjutnya.

Pasukan Suriah dan Rusia sudah membebaskan kota itu dari pendudukan ISIS pada Maret 2016, tapi Desember kemudian ISIS merebutnya kembali ketika pasukan Suriah dan Rusia berkonsentrasi pada pembebasan kota Aleppo. Belakangan ini dikabarkan pasukan Suriah sudah memulai operasi militer secara masif untuk pembebasan lagi, tapi belum ada laporan mengenai perkembangannya.

Saat pertama menduduki Palmyra, ISIS menggempur musium dan puing kono, meledakkan menara Kuil Bel yang menjulang tinggi dan berusia 2000 tahun serta Arch of Victory bersama artefak-artefak lain yang terkira nilainya.  Tak cukup dengan itu, mereka melengkapi kebrulatannya dengan mengeksekusi arkeolog terkemuka Khaled al-Assad.

Abdulkarim menjelaskan bahwa kali ini ISIS menghancurkan Tetrapylon, koleksi pilar monumental di panggung dekat pintu masuk kota kuno ini, dan bagian depan teater Romawi, di mana musisi orkestra St Petersburg Mariinsky pernah tampil dalam konser kemenangan.

Kepala badan kebudayaan PBB menyebut aksi ISIS itu “kejahatan perang baru dan kerugian besar bagi rakyat Suriah dan bagi kemanusiaan”.

“Ini pukulan baru terhadap warisan budaya … menunjukkan bahwa aksi pembersihan budaya yang dipimpin oleh ekstrimis berusaha untuk menghancurkan kehidupan manusia  maupun monumen bersejarah demi  mencerabut rakyat Suriah dari masa lalu dan masa depan,” ungkap dirjen Unesco, Irina Bokova.

Arkeolog Suriah telah mengirim banyak artefak, termasuk sekitar 400 patung ke Damaskus,ibu kota Suriah, demi mencegah kerusakan lebih banyak apabila ISIS datang lagi ke Palmyra, tetapi banyak relief dan bangunan masih berada di situs sejarah Palmyra dan rentan pengrusakan. (mm/guardian)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL