Teheran, LiputanIslam.com –  Penasehat Bidang Kebudayaan dan Media Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hamid Reza Moghaddam Far menyatakan Turki memisahkan diri dari koalisi pimpinan Arab Saudi dan masuk ke aliansi Iran, sementara Amerika Serikat (AS) tak dapat ikut dalam perundingan damai Suriah di Astana, Kazakhstan, berkat penolakan Iran.

“Turki lepas dari koalisi Saudi dan bergabung dengan  (aliansi) Rusia dan Iran,” kata Moghaddam Far dalam komentarnya mengenai perundingan Astana, Rabu (26/1/2017).

Namun demikian, dia juga menyebut Turki sebagai pemelihara teroris.

“Kehadiran Rusia dan Iran dalam pertemuan ini, terlebih Turki, sangatlah penting, mengingat Turki memelihara pra teroris. Meskipun berselisih dengan ISIS, tapi Turki menyokong Jabhat al-Nusra dan kelompok-kelompok teroris takfiri lainnya di Suriah,” ujarnya.

Menurutnya, ketika Turki belakangan ini bergabung dengan aliansi Suriah, Iran, dan Rusia dalam penyelesaian kemelut politik maka Turki telah keluar dari kubuArab Saudi, Uni Emirat Arab, dan AS.

Dia juga mengatakan bahwa Turki dan Rusia semula menyetujui partisipasi AS dalam perundingan Astana, “tapi resistensi Republik Islam (Iran) dan syarat partisipasinya berupa ketidak hadiran AS telah membuat AS tersisih dari perundingan ini.”

“Eksistensi Iran dan keberhasilan strategi dan gagasan kami sebagai pemain besar dan utama kini terbukti bagi semua kekuatan besar,” imbuhnya.

Mengenai Saudi dia mengatakan, “Dana Saudi untuk para teroris sangat besar, tapi tak menghasilkan apapun… Iran sekarang berada dalam posisi yang dapat memaksa pihak lain agar menerima usulan-usulannya.”

Dia juga menegaskan bahwa era terorisme sudah berakhir di Irak dan Suriah, meskipun mereka masih menduduki sebagian wilayah Suriah dan Irak. (mm/mehrnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL