Teheran, LiputanIslam.com –  Wakil Komandan Umum Koprs Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyatakan pihaknya tidak memiliki rencana apapun untuk bertahan di Suriah dalam jangka panjang.

“Keberadaan Iran di Suriah adalah karena permintaan pemerintah Suriah, dan kami tidak memiliki rencana apapun untuk bertahan di negara ini dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Dia juga menyebutkan tak ada perselisihan Iran dengan Rusia di Suriah, dan “apa yang diopinikan oleh media adalah rekayasa dan tak sesuai realitas.”

Mengenai sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap perminyakan Iran, Salami mengatakan, “Hari ini adalah hari agung bagi bangsa Iran. AS semula mengaku bermaksud menihilkan ekspor minyak Iran, tapi kemudian malah mengubahnya karena mengetahui tak sanggup menerapkannya. Anda melihat AS mengecualikan delapan negara dari sanksi yang ia paksakan terhadap Iran.”

Dia menilai “tekanan AS telah mencapai puncaknya” tapi tetap tak mampu berbuat banyak.

Salami kemudian mengejek AS dengan menyoal, “Apakah AS mampu mencegah ataupun membatasi pengaruh dan kekuatan mental Republik Islam Iran di kawasan? Apakah AS berhasil mengubah perilaku politik kami melalui sanksi ekonomi besar-besaran? Apakah AS sanggup meyakinkan kami untuk duduk lagi bersamanya di meja perundingan?”

AS mulai menerapkan sanksi gelombang keduanya sejak Senin (5/11/2018). (mm/railayoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*