Teheran, LiputanIslam.com –  Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam sebuah pernyataannya yang dirilis Rabu (10/4/2019) menegaskan pihaknya akan menempuh tindakan yang setimpal dengan segala tindakan yang dilakukan oleh pihak musuh, dan tidak akan pernah kendur berjuang membela Iran.

IRGC menilai keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasukkan IRGC dalam daftar teroris justru akan menambah daya defensif dan ofensif IRGC, dan jika perlu IRGC “akan membuat musuh terpaksa menyesal dan menelan pelajaran tak terlupakan.”

IRGC menyebut keputusan Trump itu “bodoh”, “orang-orang yang mengitari pemerintah AS pun juga bodoh”, dan kekalahan AS di Timteng akan terus berlangsung.

Di hari yang sama Menlu AS Mike Pompeo menuding Iran menjalin hubungan dengan jaringan teroris al-Qaedah, namun dia enggan menjawab pertanyaan apakah pemerintahan Trump memiliki kewenangan hukum untuk memerangi Iran.

Dalam kesaksiannya di depan Komisi Luar Negeri Majelis Senat AS dia juga enggan menjawab apakah mandat penggunaan kekuatan militer yang diberikan oleh Kongres kepada pemerintah pasca serangan 11 September 2001 memungkinkan Washington untun menyerang Iran.

Kepada Senator Rand Paul yang kritis terhadap campurtangan AS di luar negeri dia mengatakan, “Sebaiknya hal itu saya serahkan kepada para pengacara… Pertanyaan mengenai hubungan Iran dengan Al-Qaeda sangat faktual, sebab (Iran) telah menerima kedatangan dan membolehkan Al-Qaeda melintas di wilayahnya.”

Dia melanjutkan, “Tak diragukan lagi bahwa ada hubungan antara Iran dan Al-Qaeda.” Namun dia menepis sinyalemen dari Paul bahwa pencantuman IRGC dalam daftar teroris bertujuan mencari alasan untuk melegalkan perang.

“Itu bukan bagian dari proses pembuatan keputusan. Itu hanya pengakuan sederhana atas realitas,” ujarnya sembari mengacu pada data-data AS bahwa Iran berada di balik terbunuhnya lebih dari 600 tentara AS di Irak sejak AS menginvasi Negeri 1001 Malam itu pada tahun 2003 ketika Iran menyokong kelompok-kelompok pejuang di Irak.

Paul menolak asumsi bahwa Iran yang notabene “negara Syiah” menjalin aliansi dengan kelompok Wahhabi al-Qaeda yang menuding Muslim Syiah sebagai kafir.

Hamzah Bin Laden, putra pendiri al-Qaeda mendiang Osama Bin Laden, diduga sudah lama berada di Iran. Namun beberapa pakar menyebutkan bahwa Iran menyekap Hamzah untuk menekan Arab Saudi dan mencegah serangan al-Qaeda ke wilayah Iran. (mm/alalam/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*