Major-General-Hossein-SalamiTeheran, LiputanIslam.com –  Wakil komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Hossein Salami menyebut pernyataan pemerintah Arab Saudi mengenai niatnya untuk mengirim angkatan daratnya ke Suriah dengan dalih memerangi teroris sebagai dagelan politik.

“Rezim Saudi adalah tersangka utama dalam semua kekacauan, pembantaian dan pertumpahan darah di Irak, Yaman dan Suriah. Pernyataan tersebut ditujukan untuk mengelabui publik mengenai apa yang terjadi di Yaman,” katanya dalam sebuah wawancara televisi, sebagaimana dilansir al-Alam, Minggu (7/2).

Menurut Salami, semua kelompok teroris takfiri didanai dan dipersenjatai oleh kerajaan Arab Saudi.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi Ahmad al-Asiri menyatakan pihaknya siap mengirim pasukan darat ke Suriah di bawah komando pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk memerangi gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem, sebagaimana dilansir Independent, mengingatkan pemerintah Saudi bahwa jika angkatan darat Saudi masuk ke Suriah maka jangan harap mereka akan dapat pulang kecuali sudah dimasukkan ke dalam peti mayat.

Menurut Independent, pernyataan Saudi tersebut mengemuka setelah prospek perundingan damai di Suriah membentur jalan buntu, dan karena itu masuknya pasukan darat Saudi ke Suriah berpotensi mengobarkan perang besar di kawasan, karena meskipun Saudi berdalih memerangi ISIS, tapi tidak kecil kemungkinan ditujukan untuk berhadapan dengan “relawan Iran” dan pasukan Hizbullah Lebanon.

Penulis Palestina, Khaled al-Jayusyi, sebagaimana dilansir Rai al-Youm, menyebutkan bahwa kemenangan beruntun dan cepat pasukan Suriah di Aleppo membuat Saudi berpikir untuk melakukan campurtangan militer secara langsung di Suriah bersama Turki dengan kedok perang melawan ISIS.

Menurut al-Jayusi, Saudi  gelap mata karena ambisinya untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad tak terpenuhi melalui dukungannya kepada kelompok-kelompok ekstrimis bersenjata di Suriah.

Lebih lanjut dia mengingatkan bahwa resiko besar akan menerjang Saudi karena Suriah tidak sendirian, melainkan didukung Rusia, Iran dan Hizbullah. Menurutnya, bagaimana mungkin Saudi tidak akan berhadapan dengan resiko mengerikan di sarang singa, sementara dalam berperang dengan “negara lemah” seperti Yaman saja keteteran. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL