Wina, LiputanIslam.com –   Jubir Badan Tenaga Atom Iran Behrouz Kamalvandi menyatakan negaranya dapat memperkaya uranium dalam tempo kurang dari 2 x 24 jam.

“Mesin sentrifugal yang dimiliki Iran sekarang 25 kali lebih cepat daripada sebelumnya,” ujar jubir berbahasa Arab tersebut, , Senin (5/3/2018).

“Jika Amerika mundur dari perjanjian (nuklir dengan Iran) maka Iran dapat  memulai pengayaan uranium sebesar 20% dalam tempo kurang dari 48 jam,” lanjutnya.

Kamalvandi menegaskan bahwa Iran pantang mundur dari proyek rudal balistiknya barang sejengkal.

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam beberapa kesempatan telah menyebut perjanjian nuklir Iran dengan kelompok 5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman) itu sebagai perjanjian yang buruk sehingga dia bersumbar akan mengoyak perjanjian yang dijalin oleh pemerintahan presiden pendahulunya, Barack Obama, tersebut.

Trump juga telah memperketat sanksinya terhadap Teheran yang dituduhnya melanggar pasal tertentu dalam perjanjian itu karena menguji coba rudal balistik.

Pada 12 Januari lalu dia memberi tenggat waktu kepada Kongres AS dan negara-negara Eropa sekutunya agar merevisi perjanjian itu. Dia mengancam bahwa AS akan mundur dari perjanjian itu jika tidak dilakukan revisi.

Dirjen Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) Yukiya Amano di hari yang sama menyatakan “rugi besar” jika perjanjian nuklir Iran dengan enam negara terkemuka dunia itu sampai dibatalkan.

Dia juga memastikan Iran “menjalankan komitmennya terkait masalah nuklir” sesuai perjanjian tersebut.

Dia juga menjelaskan bahwa para pakar IAEA dapat masuk ke semua situs nuklir Iran yang memang perlu ditinjau dan IAEA sudah meminta Iran memberikan “penjelasan tambahan” mengenai laporan Iran kepada organisasi ini pada Januari lalu bahwa Teheran berniat mengembangkan reaktor nuklir apung  di masa mendatang. (mm/alalam/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*