Teheran, LiputanIslam.com – Jubir pemerintah Iran Mohammad Bagher Nobakht menegaskan kesiapan negaranya menghadapi segala kemungkinan terburuk pasca mundurnya Amerika Serikat (AS) dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA).

“Washington mungkin akan keluar dari perjanjian nuklir pada 12 Mei, dan kita harus siap memasuki tahap ini…  Kita telah menyiapkan beberapa hal untuk kondisi baru yang mungkin terjadi, dan telah mengambil keputusan yang diperlukan, ” katanya dalam berbicara pada momen peringatan Hari Guru Iran, Rabu (2/5/2018).

Dia menambahkan, “Blokade ekonomi terhadap Iran tidak akan pudar, dan kita harus memecah blokade. Ini bukan tanggungjawab pemerintah semata, melainkan juga terpikul di pundak rakyat dan para elit intelektual.”

Senada dengan ini, anggota Komisi Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Permusyawaratan Islam Iran Abolfazl Hassan Beigi menegaskan bahwa program pengembangan nuklir Iran akan bergerak kuat dan cepat jika AS jadi keluar dari JCPOA.

Dia menilai rakyat AS tidak mendukung sikap Trump, namun pemerintah AS tertekan oleh lobi Zionis dan Presiden AS Donald Trumppun memilih memuaskan kehendak Rezim Zionis Israel.

Beigi menambahkan bahwa AS di Timteng tidak mendapat tempat kecuali di Saudi, Israel, dan Bahrain.

“AS memang memiliki 15 pangkalan militer di Asia Barat (Timteng), tapi pangkalan ini berubah menjadi penjara bagi tentaranya sendiri sehingga mereka tidak menghendaki keberadaannya di Timteng, dan ketika pulangpun mereka menderita penyakit jiwa,” katanya.

Dia mengingatkan, “AS hendaknya mengetahui bahwa jika ia keluar dari perjanjian nuklir maka Iran akan memperkaya uranium hingga 20% sebagaimana sebelum ada perjanjian, dan ketika itulah terungkap kepada dunia wajah AS yang sebenarnya.” (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL