israel_missile_defenseTeheran, LiputanIslam.com – Klaim Israel mengenai sistem anti rudal Iron Dome miliknya dinilai anggota parlemen Iran sebagai gertak sambal dan omong kosong belaka. “Omong kosong rezim Israel tentang militernya memang sudah menjadi kebiasaan Israel untuk kawasan,” ujar Juru Bicara Majelis Keamanan Nasional dan Komisi Kebijakan Luar Negeri Iran Naqavi Hosseini Selasa (01/04).
Dia menambahkan, “Rezim Zionis sengaja melontarkan klaim demikian dengan tujuan menjatuhkan mental pihak lawan dan musuhnya, tetapi pasukan Hizbullah tidak gentar di depan gertakan seperti itu.”

Sebelumnya, sistem pertahanan anti rudal Israel tersebut dilaporkan berhasil mencegat dua roket Grad yang ditembakkan dari wilayah pantai Laut Merah di kota Eiliat, bagian selatan Negev.  Tentara Israel mengaku bahwa semula pihaknya menduga terjadi serangan roket di kawasan sekitar. Tapi, lanjut mereka, hal itu ternyata hanyalah merupakan akibat adanya “alarm palsu” yang terjadi karena kesalahan di lokasi Iron Dome dekat kota tersebut.  Media Israel menyebutkan bahwa kejadian alarm palsu juga disebabkan oleh adanya pesawat terbang yang hendak mendarat di Eiliat.

Iron Dome digarap Israel dengan dukungan dana dari Amerika Serikat (AS). Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Mei 2012 menganggarkan dana sebesar 947 juta dolar untuk proyek Iron Dome yang dijuluki  “Kain Dawud” tersebut.

Naqavi Hosseini menilai ujicoba terbaru militer Israel justru membuktikan Iron Dome lebih lemah dari apa yang diperkirakan sebelumnya dan tidak mampu menangkal rudal.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran Brigjen Hossein Dehqan kembali menegaskan kemampuan negaranya di bidang pertahanan, dan dalam hal ini bahkan siap melayani segala bentuk ancaman dengan respon yang “menjerakan”.

“Kami tidak mengancam negara manapun, tapi kami dapat merespon ancaman di level manapun,” ungkap Dehgan, sebagaimana dikutip Presstv. Dia menambahkan, “Musuh-musuh kami tidak berani melakukan aksi apapun terhadap kami, karena mereka tahu persis bahwa respon yang akan mereka dapatkan akan menjerakan.”

Lebih jauh Brigjen Dehgan mengingatkan pentingnya posisi Iran di Timur Tengah di sektor pertahanan sekaligus posisinya sebagai “pelopor perdamaian, stabilitas dan integritas” di kawasan.

Menurut Dehqan, Washington terus meningkatkan keberadaan militernya di Timur Tengah serta berusaha mengkampanyekan “Iranfobia” di tengah negara-negara Arab Teluk Persia dengan tujuan melicinkan kepentingan AS  di kawasan strategis ini.

Dalam beberapa tahun terakhir Iran telah membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan berhasil mencapai swasembada di bidang produksi perlengkapan dan sistem pertahanan. Meski demikian, Teheran berulangkali menegaskan kekuatannya militernya sama sekali bukanlah ancaman bagi negara manapun dengan alasan bahwa doktrin pertahananan Iran semata-mata berpijak pada upaya preventif. (mm/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*