iran farzad esmailiTeheran, LiputanIslam.com – Komandan Markas Khatam al-Anbiya untuk Pertahanan Udara Iran Farzad Esmaili bahwa dalam waktu dekat ini Iran akan memperkenalkan radar ruang angkasa (Space-based radar /SBR) jarak jauh dan sistem penangkis rudal “Talash 3”. Dia juga menyinggung penembakan Iran terhadap pesawat nirawak (drone) Hermes milik Israel dan mengatakan bahwa drone pengintai itu semula hendak diambil alih kendalinya oleh Iran dan didaratkan dengan selamat namun gagal.

Dia menjelaskan bahwa salah satu strategi pertahanan anti rudal adalah mobilitas, dan mobilitas inipun selain ada pada sumber daya manusia juga ada pada sistem yang diandalkan.

“Insya Allah, tahun ini akan kami perkenalkan radar ruang angkasa jarak jauh yang merupakan percontohan dari mobilitas radar shahab,” katanya dalam wawancara dengan lembaga pemberitaan Iran Fars News Agency (FNA), Ahad (31/8).

Dia menambahkan bahwa aktivitas yang terus ditindak lanjuti di Markas Pertahanan Udara Iran dan telah membuahkan hasil ialah berkenaan dengan sistem penangkis rudal “Talash 2” yang telah diperkenalkan pada 1 September tahun lalu.

“Beruntung, sekarang kita sudah mencapai ‘Talash 3’, yakni peningkatan jarak tempuh rudal anti rudal menjadi lebih dari 200 kilometer dan telah dikombinasikan dengan sistem S-200. Insya Allah, dua hasil ini akan dipamerkan pada tanggal 22 September tahun ini.”

Menyinggung kasus penembak jatuhan pesawat nirawak Hermes milik Israel oleh sistem pertahanan udara Iran belum lama ini, dia mengatakan, “Pesawat nirawak ini berteknologi canggih dan didesain anti radar, tapi memburunya bagi kami tidaklah sulit.”

Menurutnya, pengungkapan dan instruksi penghancuran pesawat nirawak pengintai Israel itu telah dilakukan dengan kecermatan ekstra.

“Hermes dihancurkan kurang dari dua menit dan sebelum masuk ke kawasan nuklir (Natanz),” katanya.

Mengenai mengapa tidak segera ditembak jatuh ketika berada di perbatasan dia mengatakan bahwa pihaknya semula berusaha mengambil alih kendali drone itu dan mendaratkannya dengan selamat namun gagal.

“Kami semula berusaha mendaratkan drone itu,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, juga demi keamanan pesawat-pesawat sipil karena angkasa Iran sedang padat lalu lintas penerbangan sipil. Belakangan kepadatan penerbangan di angkasa Iran mengalami peningkatan drastis menyusul pengumuman keamanan angkasa Iran oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (IKAO) pasca insiden penembak jatuhan pesawat Malaysia MH17 di angkasa Ukraina.

“Kami biarkan drone itu masuk dan melintas selama 43 menit, sebab kami tidak ingin terjadi peristiwa yang tidak diinginkan bagi penerbangan-penerbangan negara kita, sebab berdasarkan pengumuman IKAO, penerbangan meningkat tiga kali lipat karena keamanan angkasa Iran,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa drone itu tidak menyadari kondisinya sudah terpantau, sebab jika sadar tentu akan memilih kabur atau meledakkan dirinya. Tapi drone itu kemudian tertembak jatuh dengan hanya satu kali tembakan pada ketinggi 3,700 meter oleh sistem pertahanan udara di Natanz lewat sebuah tindakan yang tidak mengalami kekurangan apapun sehingga tidak menimbulkan masalah bagi penerbangan lain. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL