Washington, LiputanIslam.com –  Petinggi intelijen Amerika Serikat (AS) mengingatkan Israel agar tidak melakukan serangan terhadap Iran di wilayah Suriah karena dapat memancing serangan balasan “konvensional” dari Iran yang telah mengirim penasehat militer ke Suriah.

Dalam pidatonya pada sidang Komite Pemilihan Senat AS untuk Intelijen di Washington, Selasa (29/1/2019), Direktur Intelijen Nasional AS, Dan Coats, mengatakan bahwa serangan udara Israel yang berkelanjutan terhadap Suriah akan meningkatkan risiko pembalasan Iran.

“Kami menilai bahwa Iran berupaya menghindari konflik bersenjata besar dengan Israel. Namun, serangan Israel yang mengakibatkan korban Iran meningkatkan kemungkinan pembalasan konvensional Iran terhadap Israel,” ujar Coats.

Dia juga menyuarakan keprihatinan tentang apa yang disebutnya “lintasan jangka panjang pengaruh Iran di kawasan, dan risiko konflik akan meningkat.”

Coats kemudian mengklaim bahwa Iran berusaha memiliki “pangkalan militer permanen” di Suriah dan bisa jadi bermaksud mempertahankan jaringan “pejuang” di sana meskipun ada serangan udara Israel.

Pejabat AS itu menyampaikan pandangan Komunitas Intelijen AS kepada Komite Kongres sebagai bagian dari Penilaian Ancaman Sedunia tahunan.

Teheran telah memberikan bantuan penasihat militer kepada tentara Suriah atas permintaan pemerintah Damaskus. Iran berulangkali menyatakan tidak memiliki pasukan yang beroperasi dan pangkalan militer di sana.

Militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah terhadap apa yang disebutnya target Iran, sementara Teheran tidak mengkonfirmasi klaim tersebut.

Israel – yang telah mendukung perang kelompok-kelompok teroris terhadap pemerintah Damaskus – memandang penasehat Iran di Suriah sebagai ancaman, dan secara terbuka berjanji untuk menyerang mereka sampai mereka meninggalkan Suriah.

Awal bulan ini, Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Ali Jafari menanggapi ancaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap para penasehat militer Iran di Suriah. Dia bersumpah bahwa Iran akan melindungi misi penasehat militernya terhadap “tindakan konyol” dan agresi Rezim Zionis Israel.

Israel mengaku bahwa pada bulan Mei 2018 telah melancarkan apa yang disebutnya serangan udara tersengit di Suriah dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, dalam serangan itu Israel telah menggunakan 28 pesawat tempur dan menembakkan 70 rudal. Damaskus dan Moskow mengatakan bahwa tentara Suriah berhasil menembak jatuh lebih dari separuh dari puluhan rudal tersebut.

Rezim Tel Aviv saat itu juga mengklaim bahwa serangannya merupakan tanggapan terhadap serangan 20 roket yang ditembakkan dari Suriah ke pos-pos militer Israel di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah diduduki Israel. (mm/albawaba/thejerussalempost)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*